Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
Opini

Percakapan Soal Pilpres 2024 dan Alumni Pittsburgh

Malam itu kami menjadi muda kembali: saling bercerita, membagi kisah perjalanan hidup, menyanyi, berjoget-joget bersama.

Di sela-sela percakapan, menyelip pula tukar info dan diskusi antar pribadi soal pilpres 2024. Terlihat polanya, siapa cenderung mendukung capres yang mana.

Selesai acara, di mobil ketika pulang ke rumah, saya ingat-ingat kembali momen-momen pertama ketika saya sekolah di sana.

Saya mengalami cultural shock. Ketika itu, di tahun 90an awal, saya terbiasa dengan gaya pemerintahan presiden Suharto. Pers tak bebas. Sangat jarang yang berani mengkritik presiden Suharto di era itu.

Tahun 1992, ketika saya ke Pittsburgh, suasana politik di sana menuju pada pertarungan capres antara incumbent George Bush melawan Bill Clinton.

George Bush sebelumnya pernah menjadi wakil presiden bagi Ronald Reagan. Di tahun 1981, Ronald Reagan pernah ditembak oleh John Hinkley tapi Ronald Reagan tidak mati.

Halaman kampus di taman terdapat banyak sekali mahasiswa sedang pidato seperti berkampanye. Ada satu area di sana yang mem- pahlawan-kan John Hinkley.

George Bush hanyalah foto kopy Ronald Reagan, ujar yang berpidato. “Reaganomics membuat kesenjangan ekonomi semakin lebar. Kita menderita karena Reagan. Itu sebabnya John Hinkley yang menembak Reagan itu pahlawan kita.”

“Wah, ujar saya dalam hati. Di sini, penembak presiden bisa dielu- elukan. Bebas sekali mereka. Sementara di Indonesia era pak Harto saat itu, kita para aktivis jika mau mengkritik pak Harto saja kadang harus banyak menyensor diri sendiri.”

Saya sempat pula di Pittsburgh, momen- momen pertama, mengalami sejenis trance, kesenangan yang alang kepalang. Yaitu ketika saya masuk ke perpustakaan utamanya, yang terdiri dari sembilan lantai.

Buku yang hanya saya dengar saja di Indonesia, saya temukan di sana. Ada jutaan kopi buku.

Juga tersedia pusat video film dunia. Hampir semua film pemenang Oscar, Cannes dan lain lain dikoleksi dan bisa ditonton.

Di Pittsburgh, saya sangat jarang bergaul. Di luar waktu kuliah, waktu banyak saya habis kan hingga larut malam di perpustakaan dan ruangan untuk menonton film.

Pittsburgh menjadi sejenis gua hira bagi saya. Jika Nabi Muhammad mendapatkan wahyu di gua hira, saya mendapatkan informasi, pengalaman batin dan pembentukan mindset di sana.

Di mobil, pulang dari acara reuni alumni Pittsbugh, melalui japri, seorang teman sesama alumni Pittsburgh mengirim teks.

“Bro, beri tahu saya jauh- jauh hari ya, siapa capres yang bro akan dampingi. Bro kan sudah ikut menangkan capres 4 X berturut- turut, pastinya bro akan membantu capres untuk menang ke-5x, dong.”

Singkat saja saya jawab: “Siaapp.”

Demam percakapan soal pilpres 2014 memang sudah seperti virus yang menyebar, ke segala lapisan masyarakat.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita