Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
Opini

Pekerja Sosial Dalam Kontestasi Politik

Hanya saja, tidak bisa dinafikan adanya stereotipe bahwa kekuasaan cenderung korup, kotor dan bisa mendegradasikan jiwa malaikat menjadi setan membuat pekerja sosial tidak tertarik untuk memasuki wilayah politik praktis. Tidak sedikit aktivis sosial yang terkesan alergi dan tidak siap menerima stigma sebagai aktivis pragmatis bila mencoba berjuang di jalur politik praktis.

Karena itulah perlu adanya rekonstruksi mindset para aktivis sosial bahwa, politik praktis bukan zona larangan. Bagaimanapun juga, kepentingan rakyat akan diatur melalui peraturan perundang-undangan yang dilahirkan oleh pemegang kekuasaan legislatif maupun eksekutif.

Mengutip perkataab Presiden Turki, Recep Erdogan, bila orang baik tidak ada yang mau berpolitik, maka orang-orang jahatlah yang akan mengisinya. Bila kekuasaan akan didominasi oleh orang-orang yang tidak memiliki literasi sosial, cita-cita memajukan kesejahteraaan umum hanya akan menjadi tulisan di preambule konstitusi.

Bila semua pekerja sosial memilih berada di luar kekuasaan, bisakah diharapkan akan lahirnya kebijakan yang berpihak pada fakir miskin, melindungi anak-anak dari penelantaran, perundungan dan komersialisasi, serta berpihak pada penyandang disabilitas?

Dalam sistem demokrasi yang bersifat partisipatoris, pekerja sosial memang masih bisa menjalani peran di luar kekuasaan sebagai sebuah kekuatan independen. Selain melakukan social control, kekuatan ekstra parlementer akan menjadi pemberi masukan kepada pemegang kekuasaan dalam membuat kebijakan.

Tetapi, policy makers tetaplah mereka yang ada di dalam wilayah politik praktis. Tidak ada garansi bahwa semua masukan dari para aktivis akan dijadikan acuan dalam penyusunan peraturan perundang-undangan.

Dengan semua pertimbangan tersebut, masuknya pekerja sosial dalam sebuah kontestasi politik tidak layak dihakimi sebagai pilihan sikap yang naif. Selama tetap memelihara motivasi untuk memperjuangkan kesejahteraan dan keadilan sosial, pilihan untuk berpolitik praktis tetaplah sikap idealis.

Dibandingkan dengan para selebriti politik, pekerja sosial mungkin kalah dari sisi popularitas. Seperti halnya Barbara Ann Mikulski, pekerja sosial bisa hadir untuk menawarkan gagasan solutif yang terbentuk dari pemahaman terhadap masalah riil di masyarakat. Gagasan itulah yang diharapkan akan bisa menjadikan kekuasaan dalam sistem demokrasi bermuara pada peningkatan kualitas hidup rakyat.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita