Lalu seluruh siswa diberi sejumlah soal. Dalam tempo 10 menit segera ditanyakan, siswa yang berhasil menyelesaikan 10 soal diharap angkat tangan. Lalu nama-namanya dicatat sebagai data kelompok anak kategori pandai. Setelah itu siswa diberi waktu lagi untuk mengerjakan soal. Dalam tempo 10 menit ditagih lagi, nama siswa dicatat lagi lalu dimasukkan kepada kelompok anak normal. Demikian juga seterusnya, sehingga terbentuk lagi data kelompok anak lambat belajar.
“Pengelompokan inilah yang dijadikan data dasar mengajar. Anak pandai diberi soal tambahan yang lebih sulit. Anak normal diberi soal standar, dan anak kelompok lambat diberi soal yang mudah. Nanti, kelompok anak pandai terus dipacu, silakan diberi materi pelajaran kakak-kakak kelasnya. Kalau ada lomba olimpiade matematika, ya anak-anak ini yang ditampilkan, pasti hasilnya bagus,” begitulah Kadisdikbud telah menjelaskan praktik pembelajaran diferensiasi sebagaimana yang dikehendaki Kurikulum Merdeka.***
Teksfoto:
Kadisdikbud Kab. Pasuruan, H. Hasbullah. SPd, M.Pd (berjas hitam) di hadapan peserta workshop Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) bagi Guru SD Kelas II dan V Kec. Pandaan, Senin (10/7) siang.
