Selama dipenjara di Rutan Ponorogo, Tan Malaka yang termasuk penulis yang cukup produktif sempat menulis buku dengan judul Dari Pendjara ke Pendjara yang berisi tentang riwayat hidup (otobiografi).
Di dalam penjara Ponorogo, pada bulan September 1947, Tan Malaka menulis kata pengantar untuk jilid pertama autobiografinya Dari Penjara ke Penjara, yang baru terbit pada bulan Juni 1948 dalam bentuk stensilan. (kata pengantar penerbit untuk penerbitan ini tertanggal Solo, 17 April 1948).
Dengan demikian dalam waktu satu tahun Tan Malaka menuliskan riwayat hidupnya, dari April 1947 sampai Maret 1948: jilid pertama dari April sampai Juli 1947; jilid kedua dari September sampai November 1947; dan jilid ketiga dari Desember 1947 sampai Maret 1948.
Situasi untuk bisa menghasilkan karya yang begitu luas jauh dari ideal. Untuk Tan Malaka disediakan pensil kertas dan meja tulis. Sel yang dihuninya terkadang sepi, terkadang harus dihuni bersama sesama kawannya. Nasibnya tidak jelas. Pemindahan bisa terjadi setiap saat; kemudahan-kemudahan bisa dengan seenak sendiri diberikan atau dicabut. Begitu juga dengan nasib naskahnya tidak pasti; dirampas atau dihancurkan selalu menjadi ancaman.
Tan Malaka memiliki beberapa nama dalam perjalanan hidupnya baik di dalam maupun luar negeri dengan alasan, karena nama Tan Malaka sudah dikenal di seluruh Sumatera dan pemerintah Belanda, nama tersebut tidak dapat mengadakan perjalanan dan juga untuk menyembunyikan identitas.
Ia menguraikan perjalanannya dari suatu negara ke negara lain untuk menghindar dari kejaran agen-agen kolonial. Ia juga memaparkan pandangan tentang kepercayaan, filsafat dan tentang negara. Dari buku inilah kebanyakan para pemerhati mendapat gambaran kehidupan Tan Malaka yang revolusioner.
Akhir hayat Tan Malaka cukup memperihatinkan, karena pada 21 Februari 1949, , Tan Malaka ditangkap bersama beberapa orang pengikutnya di Desa Selopanggung, Kediri, setelah penangkapan dan penahanan di Desa Patje.
Bagi Tan Malaka, penjara disebutnya sebagai rumah keduanya.
