“MRT, sebagai simbol teknologi tinggi dan pelayanan terbaik, akan tetap tersedia untuk masyarakat umum. Namun, akan ada pengaturan khusus untuk delegasi pada jam-jam tertentu,” katanya.
Rute MRT yang akan digunakan oleh delegasi telah dipilih secara strategis, termasuk titik-titik penting seperti kantor ASEAN dan GBK. Hal ini mempermudah mobilitas dan aksesibilitas para delegasi ke tempat-tempat yang relevan.
Di sisi lain, dalam rangka memberikan pengalaman yang lancar dan efisien bagi para delegasi, Adita menjelaskan bahwa serangkaian persiapan telah dilakukan.
Pertama, langkah pengaturan di Bandara akan dilakukan, mirip dengan pendekatan yang telah diterapkan dalam KTT G20 sebelumnya. Tujuannya adalah memastikan bahwa tiba di Indonesia adalah pengalaman yang menyenangkan bagi para delegasi.
“Selanjutnya, fokus akan beralih pada mobilitas dan konektivitas selama KTT. Salah satu aspek yang menonjol adalah penerapan ganjil genap dan rekayasa lalu lintas yang terencana,” jelasnya.
Upaya mengurangi dampak mobilitas yang tinggi selama KTT ASEAN juga melibatkan rekayasa lalu lintas yang disusun dengan cermat.
Adita mengakui bahwa tidak mungkin untuk menghindari mobilitas sepenuhnya, terutama di sektor-sektor tertentu yang memerlukan kehadiran fisik. Maka dari itu, solusi seperti WFH (work for home) diperkenalkan sebagai upaya untuk mengurangi mobilitas di beberapa sektor.
Dalam hal informasi kepada masyarakat, Adita menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam mencari informasi tentang peraturan lalulintas dan mobilitas selama KTT ASEAN.
“Pemerintah melalui pihak berwenang akan terus berusaha untuk memberikan sosialisasi agar masyarakat dapat mengantisipasi dengan baik,” pungkas mantan Humas Indosat ini sumringah. (Rudi_Kanalindonesia.com)
