Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
Opini

Membangun Perspektif Baru Kekuatan TNI AL

Keberadaan benteng-benteng pertahanan di pinggir pantai  lengkap dengan persenjataannya, pembangunan infrastruktur pasar dan gudang, protokoler kerjasama antar wilayah dan negara, kemampuan untuk berbicara bahasa asing, adalah cara-cara yang ditempuh kerajaan maritim Gowa dalam mempertahankan kedaulatannya (Muklis Paeni, dalam Connie RB, 2023).

Dunia maritim Indonesia sebenarnya sudah memiliki budaya kemaritiman yang komprehensif: filosofi, tradisi, mitologi, astrologi/astronomi, arsitektur, seni dan manajemen yang ajeg.

Kerajaan-kerajaan leluhur maritim di Indonesia bukan hanya Gowa, tetapi juga meliputi kerajaan Aceh, yang salah satu kekuatan armada lautnya sanggup memberangus tentara-tentara VOC dalam perebutan wilayah.  Meskipun pasukan tersebut beranggotakan para perempuan, yang juga dipimpin oleh laksamana perempuan, Malahayati, namun mampu menewaskan pimpinan ekspedisi Belanda VOC Cornelis De Houtman  .

Ini membuktikan bahwa  kekuatan maritim Indonesia bukan baru-baru saja dibentuk, melainkan telah menempuh perjalanan sejarah yang panjang dan seyogyanya semakin mengukuhkan keberadaannya di mata dunia.

Bukan hanya itu, industri kapal dan kapal perang juga telah dibangun di Indonesia sejak lama, saat bernama Nusantara. Bahkan salah satunya diceritakan sebagai produsen untuk kapal-kapal kerajaan Inggris dan Spanyol, yang kemudian berlayar ke wilayah Asia untuk melakukan kolonialisasi. Hal ini menunjukkan betapa sesungguhnya Nusantara telah begitu maju dalam pengetahuan dan pemahaman dunia.

Namun sayangnya saat ini kondisi memaksa  untuk mempercayai yang sebaliknya. Indonesia sebagai wilayah maritim yang kekuatannya pernah menggemparkan dunia, terpinggirkan begitu saja entah karena apa.

Mengembalikan Kekuatan Maritim dan Nama Indonesia ke Panggung Dunia

Kekuatan maritim Indonesia harus kembali secara menyeluruh, sudah saatnya Jalesveva Jayamahe mewujud dan terakui. Justru di laut kita menang tidak lagi hanya menjadi sebagai simbol dan slogan saja.  Melainkan harus menjadi pernyataan tegas dari sebuah negara maritim yang ditunjang  dengan industri maritim dan kekuatan armada militer yang tangguh.

Presiden  Joko Widodo telah mencanangkan Indonesia sebagai negara poros marititim dunia ( 2019), adalah momentum yang harus direbut dan dibuktikan dengan meningkatkan kompetensi tehnologi, kemampuan prajurit laut dan Alutsista yang modern, profesional dan mandiri. 

Oleh karena maka target kemandirian sebagai negara bahari yang berdikari harus dapat terpenuhi. Karena segalanya terpenuhi oleh alam nusantara  yang dermawan.

Sebagaimana ajakan sekaligus perintah KASAL Muhammad Ali ( WEL 3 Juli 2023), bahwa sudah saatnya kita mempelajari kembali sejarah bangsa sebagai bangsa bahari secara utuh, mengambil intisari kebaikan dan menyingkirkan yang bernoda. Mari kita memahami bagaimana negara maritim ini terbentuk, dikelola dengan terperinci.

Saat ini sudah waktunya kita berkompetisi dengan negara negara lain. Memainkan peran strategis secara geopolitik dan geostrategi dengan melakukan  transfer knowlegde ilmu pengetahuan tentang tehnologi kelautan . Untuk selanjutnya  mengadaptasikannya  dengan hal hal yang  sejalan dengan apa yang sudah kita miliki dan yakini.

Pengembalian kepercayaan diri yang sempat tergerus pada saat kolonialisasi dapat kita mulai dari lautan. Penguasaan lautan Indonesia yang menghormati alam dan manusia adalah strategi utama dalam proses perwujudan kejayaan dan kekuatan maritim Indonesia. Indonesia dapat kembali menjadi jaya hanya bila kita padu dalam mewujudkannya.

Mengandalkan kekuatan maritim, didukung Kekuatan TNI AL yang Solid, loyal, profesional dan militan , maka kejayaan bangsa Indonesia akan kembali bersinar. Jalesveva Jayamahe. Dirgahayu TNI AL ke 78 tahun 2023

Penulis dokter TNI AL, anggota  Kelompok Ahli( Pokli) RSPAL dr. Ramelan Surabaya

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita