Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL PENDIDIKAN

Diharapkan Lulusan Profesi Insinyur ITI Memiliki Etika Tinggi dan Jiwa Profesionalisme

Pada kesempatan yang sama, Ir. Bambang Goeritno Soekamti, M.Sc., MPA., IPU., APEC Eng selaku Sekretaris Jenderal Persatuan Insinyur Indonesia menjelaskan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) ini adalah anggota dari International Engineering Organizations atau Aliansi Insinyur Internasional yang jumlah anggotanya sangat banyak. Selain itu, PII tidak hanya memiliki fungsi dalam menjalankan akreditasi pada Perguruan Tinggi Teknik melainkan dapat melakukan kerjasama dengan beberapa negara dalam rangka kesetaraan sertifikasi keinsinyuran. Hal ini berdampak pada Insinyur yang telah memiliki sertifikasi Insinyur Profesional seperti IPM dan IPU memiliki kesetaraan dan hak yang sama dalam hal legalitasi Insinyur di Internasional sehingga para insinyur memiliki kemudahan untuk masuk ke dalam suatu negara dalam menjalankan praktek keinsinyuran. Seperti yang diketahui sebelumnya, Indonesia saat ini dalam kondisi minim Insinyur Profesional, dimana rasio negara lainnya lebih unggul dalam ketersediaan Insinyur Profesional. Ketersediaan Insinyur di Negara Korea Selatan dapat mencapai 5000 orang, Jepang dan Malaysia mencapai 9.000 Insinyur. Sedangkan Negara Vietnam jauh lebih baik dalam mencetak Insinyur daripada Indonesia. Oleh karena itu, perlu dukungan dan peran dari berbagai pihak, khususnya PSPPI ITI dalam menumbuhkan jumlah Insinyur di Indonesia, Pungkas, Bambang Goeritno pada Awak Media, Minggu (22/10/23).

Prof. Ir. Krishna Mochtar, ST., MSCE., Ph.D., IPU selaku Ketua Program Profesi Insinyur menjelaskan, bahwa kurikulum pada Program Profesi Insinyur ITI tentunya telah ditetapkan oleh pemerintah maupun PII, dimana ilmu-ilmu dasar keteknikan telah didapatkan pada jenjang sarjana. Kurikulum PSPPI ITI menambahkan kode etik keinsinyuran sehingga untuk menjadi seorang lulusan Insinyur ITI harus memiliki etika tinggi sehingga memiliki jiwa profesionalisme.
Selain itu, kurikulum dalam segi K3 dan communication skill serta pemecahan masalah secara nyata di lapangan yang di dalamnya akan ada studi kasus dan praktik-praktik keinsinyuran sehingga menjadi bekal bagi para insinyur ke depannya,” pungkas Krishna Mochtar.

Peraih predikat kelulusan Summa Cumlaude, Ir. Herman, SP.,M.Eng yang saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian & Pengembangan Daerah (BAPPEDA) Kab. Bangka Selatan dalam pernyataannya kepada awak media menambahkan, bahwa Insinyur adalah aktor pembangunan sehingga kita dituntut harus bisa berpikir secara sistematis. Di dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) sampai dengan tahun 2045, Indonesia akan menjadi salah satu negara yang maju sehingga Insinyur harus mampu mengoptimalkan perannya dalam mengelola segala sumber daya yang ada di bumi pertiwi tentunya dengan etika moral dalam keprofesian Insinyur,”pungkasnya.@tpa

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita