Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL SURABAYA

FFI 2023 Kembali ke Akar Sejarah, Ini Penjelasan Pemerhati Film dari Stikosa AWS

“Secara keseluruhan, saya yakin bahwa FFI 2023 akan menjadi ajang yang meriah dan inspiratif. FFI 2023 akan menjadi ajang untuk merayakan pencapaian para sineas Indonesia, menjadi motivasi bagi para sineas untuk terus berkarya, dan menjadi ajang untuk mempromosikan film-film Indonesia berkualitas,” harap Aulia.

Film dan Peradaban Manusia

Film adalah gambaran riil tentang peradaban masyarakat. “Saya ingat, dulu sempat bermunculan film dengan tema sensualitas dan seksualitas merajai bioskop. Lalu generasi film horor. Dan kini semakin beragam. Ini mewakili peradaban bangsa Indonesia,” kenang Aulia.

Ia menjelaskan, pada masa lalu, film Indonesia sempat didominasi oleh film-film dengan tema sensualitas dan seksualitas. Hal ini dapat diartikan sebagai cerminan dari peradaban masyarakat Indonesia yang sedang mengalami perubahan. Pada masa itu, masyarakat Indonesia mulai terbuka dengan nilai-nilai dan tren baru, termasuk nilai-nilai dan tren dari luar negeri. Bisa juga karena alasan lain, misal jalan pintas komersialisasi film.

“Kini, film Indonesia semakin beragam. Hal ini dapat diartikan sebagai cerminan dari peradaban masyarakat Indonesia yang semakin maju dan dinamis. Masyarakat Indonesia semakin terbuka dengan berbagai macam nilai-nilai dan tren, termasuk nilai-nilai dan tren dari luar negeri,” jelasnya.

Aulia kemudian memberikan beberapa contoh film Indonesia yang bisa jadi mewakili gambaran riil tentang peradaban masyarakat Indonesia pada saat itu.

Misal, film Darah dan Doa (1950), merupakan film pertama di Indonesia yang mengangkat tema perjuangan kemerdekaan. Film ini dapat diartikan sebagai cerminan dari semangat perjuangan bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaannya.

Lalu Tiga Dara (1956), film klasik Indonesia yang mengangkat tema keluarga. Film ini dapat diartikan sebagai cerminan dari nilai-nilai keluarga yang kuat dalam masyarakat Indonesia. Contoh lain film Pedjuang (1960), film perang Indonesia yang mengangkat tema perjuangan kemerdekaan. Film ini dapat diartikan sebagai cerminan dari semangat patriotisme dan nasionalisme bangsa Indonesia.

“Yang agak baru adalah Preman Pensiun (2019), drama komedi yang mengangkat tema kehidupan preman. Film ini dapat diartikan sebagai cerminan dari realitas kehidupan di masyarakat Indonesia. Kemudian Ngeri-Ngeri Sedap (2022), drama komedi yang mengangkat tema keluarga. Film ini dapat diartikan sebagai cerminan dari nilai-nilai keluarga yang kuat dalam masyarakat Indonesia,” jelas Aulia.

Industri Budaya yakni film adalah usaha hiburan bergerak dengan logika pasar, demikian pula industri perfilman di Indonesia. Di era ini industri film telah dikomodifikasikan melalui pertimbangan logika film ekonomi media. wujud inspirasi karya film Indonesia didominasi dalam perhitungan bisnis, yang terkesan dipaksakan.

“Realitas sosial, fakta dan tema pengangkatan cerita dari adaptasi novel , persaudaraan keluarga sehingga begitu populer, dan juga produsen film meremake ulang film jadul (jaman dulu) yang telah populer di eranya kemudian dibuat ulang dengan penyegaran cerita dan aktor baru namun tidak menghilangkan substansi dari ciri khas film awal. maka dengan demikian sebenarnya selera penonton itu dikonstruksi oleh industri film atau selera penonton datang dari penonton itu sendiri,” tutup Aulia. *

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita