Gaya Prabowo, itu ada jenakanya. Ada humornya. Kadang ia menyeletuk: “Anies, Anies.” Atau “Sorry ye.” Juga Prabowo bermain silat ketika moderator memotong ucapannya.
Itu justru membuat audiens tertawa. Gaya jenaka ini lebih disukai oleh pemilih Indonesia pada umumnya, di luar kalangan terpelajar. Dan jumlah mereka jauh-jauh lebih banyak.
Keuntungan Prabowo, gaya komunikasinya itu lebih disukai oleh corak pemilih yang kebetulan di Indonesia sekarang ini jumlahnya paling banyak.
Ganjar bergayanya selayaknya seorang motivator. Ia menyentuh hati. Ia kisahkan pertemuannya dengan pemilih di daerah ini, dan di daerah itu. Ganjar mengesankan pemimpin yang sangat mendengar publik.
Tapi jumlah pemilih yang suka gaya ini masih kalah banyak dibandingkan dengan jumlah pemilih yang senang gaya pidato jenaka, yang ada selipan humornya.
Prabowo juga diuntungkan oleh situasi sebelum debat capres. Aneka survei yang dikerjakan oleh setidaknya tiga lembaga: LSI Denny JA, Kompas dan Indikator Politik, menggambarkan keunggulan telak Prabowo-Gibran.
Berdasarkan data tiga lembaga itu: pendukung Prabowo sekarang jumlahnya antara 39% sampai 45%. Ganjar-Mahfud sekitar 15% sampai 25%. Anies-Muhaimin: 16 sampai 24%.
Kita pun tahu. Bahwa mayoritas pemilih yang sudah memilih mengatakan calon yang sudah dipilihnya itulah yang menang debat capres.
Kesimpulannya bersifat tentatif. Tepatnya, ini hipotesis. Jika ditanya kepada kalangan terpelajar siapa yang menang debat? Lebih banyak yang mengatakan Anies yang menang.
Tapi jika dilempar kepada publik luas, keseluruhan pemilih Indonesia, lebih banyak yang akan mengatakan Prabowo lah yang menang debat capres perdana.
