Di bulan akhir Oktober 2023, segmen pemilih yang mendukung Ganjar berjumlah 39,4% (dari segmen yang puas terhadap kinerja Jokowi). Tapi di akhir November 2023, tinggal 28,9% dari pemilih yang puas dengan Jokowi yang bertahan di Ganjar.
Dalam waktu sekitar satu bulan saja, sebesar sebelas persen (11%) sudah suara pergi dari Ganjar Pranowo (dari segmen yang puas kinerja Jokowi).
Dalam studi perbandingan politik elektoral, merosotnya dukungan sangat besar dan sangat cepat itu hanya terjadi, salah satunya akibat blunder besar.
Mengapa mereka lebih memilih ikut Jokowi, ketimbang meninggalkan Jokowi? Bukankah saat itu Jokowi sedang dikritik keras.
Ini fenomema karakter pemilih yang emosional. Memang hubungan segmen pemilih itu kepada Jokowi sudah ada elemen emosionalnya. Mereka terutama adalah pemilih wong cilik.
Umumnya pendidikan mereka hanya SMP ke bawah. Tapi jangan lupakan fakta penting. Jumlah segmen ini adalah yang terbanyak dari populasi pemilih Indonesia: 55%.
Ada pemilih rasional. Ada pemilih emosional. Ini pelajaran elementer politik elektoral. Pemilih yang rasional umumnya ini datang dari kalangan terpelajar, seperti mahasiswa, tamat D3, S1, S2, S3. Total pemilih kalangan terpelajar ini hanya 10 persen saja.
Untuk kasus Indonesia, jauh lebih banyak karakter pemilih emosional. Hubungan pemilih ini kepada Jokowi jauh lebih mendalam. Ini jenis hubungan yang tak mudah luntur hanya akibat sebuah wacana atau gagasan model isu dinasti politik.
Di segmen ini, justru mereka tetap dengan Jokowi dan pergi dari Ganjar Pranowo. Kemana mereka pergi? Sebagian mereka pergi ke Prabowo. Sebagian ke Anies. Dan sebagian lagi ke swing voters.
Itulah yang menjelaskan mengapa elektoral Ganjar Pranowo turun sangat drastis sekali di bulan November dan Desember 2023. Itulah momen ketika serangan kepada Jokowi begitu kerasnya yang dikerjakan kubu Ganjar pranowo sendiri.
Ini sekali lagi membuka mata kita berlakunya satu sindrom Dewi Eris bahwa, walau niatnya baik tapi ujungnya bisa buruk jika ditinjau dari politik elektoral.
Ini mungkin sedikit membingunkan bagi common sense umum. Tapi ini hal yang biasa saja bagi yang fasih dengan politik elektoral dan membaca data riset dari waktu ke waktu. (ari)
