Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL NASIONAL

Era Artificial Intelligence: Tiga Jenis Penulis dan Teror Mental Putu Wijaya

Era Artificial Intelligence: Tiga Jenis Penulis dan Teror Mental Putu Wijaya

Oleh : Denny JA

Penulis adalah Konsultan Politik, Founder LSI-Denny JA, Penggagas Puisi Esai, Sastrawan, Ketua Umum Satupena, dan Penulis Buku

– Sekapur Sirih

“Persoalan dengan Artificial Intelligence bukanlah kecerdasan ini akan menggantikan manusia. Ia hadir justru menjadi alat bantu agar kita menjadi versi yang lebih baik daripada homo sapiens saat ini.”

Pernyataan dari Fei-Fei Li ini yang teringat, ketika saya menyaksikan Putu Wijaya. Bulan Desember 2023, di atas panggung, dari kursi rodanya, dalam acara SATUPENA, dibantu dua orang asisten di kanan dan di kiri, di akhir pementasannya, Putu berdiri, dan memekik sepenuh tenaga:

Hidup manusia! Hidup manusia!

Hadirin riuh rendah bertepuk tangan. Penonton terkesima bukan saja pada semangat Putu Wijaya yang melampaui fisiknya.

Tetapi juga karena hadirin merasakan percikan api keyakinan Putu Wijaya pada kemampuan manusia.

Ketika turun dari panggung, Putu Wijaya bercerita membisik kepada saya. Ia terpana dan shock mendengar pidato saya (Denny JA). Selaku ketua umum Satupena, Perkumpulan Penulis Indonesia, saya memberi sambutan mengenai perkembangan mutakhir.

Dalam orasi itu saya katakan, betapa sekarang ini, Artificial Intelligence bukan saja sudah bisa menulis buku sendiri. Tapi beberapa buku yang ditulis Artificial Intelligence sudah pula mencapai Best Seller di toko buku online terbesar Amazon.com.

Orasi saya itu menggelisahkannya. Melalui WA di japri, lewat istrinya, Putu ulangi lagi kesannya. Saya cuplik teks itu dan saya edit redaksinya agar lebih mudah dibaca:

(Putu sudah 60 tahun menulis baik drama, cerpen, novel, skenario film dalam rangka teror mental.

“Putu tergugah/terinspirasi oleh testimoni Pak Denny JA yang menyatakan AI sudah mampu menulis fiksi, bahkan yang best seller.”

Putu Wijaya sudah mulai menulis karya-karya Teror Mental sejak 60 tahun yang lalu. Ia tidak mengandalkan bantuan data-data, tetapi mengeksplorasi “rasa.”

Kehadiran AI mungkin sekali bisa merampas dapur para penulis Indonesia. Putu perlu mengingatkan mereka bahwa anugerah “rasa” dari-Nya bersama dengan seluruh latar belakang adat istiadat dan kearifan lokal penulis Indonesia, adalah kekayaan yang luar biasa.

“Ini bukan untuk menolak AI, tapi untuk bersparring partner.”

Demikian tulis Putu Wijaya melalui HP istrinya.

Teror mental memang semboyan yang diciptakan Putu Wijaya sendiri, sejak tahun 1970-an. Ini menggambarkan gaya penulisannya yang khas dan menantang.

Istilah ini mengacu pada teknik menulis yang bertujuan untuk mengguncang pembaca secara psikologis. Ia memaksa mereka untuk merenungkan aspek-aspek mendasar dari kehidupan hingga ke akar eksistensial.

Dalam karya-karyanya, Putu sering menggunakan kejutan, ketegangan, dan perasaan tidak nyaman untuk menciptakan efek yang mendalam dan provokatif.

Putu Wijaya percaya seni harus mampu mengguncang kesadaran pembaca. Seni perlu membuat mereka keluar dari zona nyaman, dan memikirkan kembali asumsi dan keyakinan mereka.

Teror mental digunakan untuk mengangkat isu-isu eksistensial, sosial, politik, dan kemanusiaan dengan cara yang langsung dan sering kali mengejutkan.

Tapi kini giliran Putu Wijaya yang terteror dengan kehadiran Artificial Intelligence.

Karena Artificial Intelligence, kini lahirlah tiga jenis penulis yang berbeda, masing-masing dengan pendekatan unik terhadap seni menulis.

Pertama, penulis Pola Lama. Mereka adalah penjaga tradisi. Mereka mengukir kata-kata dengan penuh hati. Meyakini bahwa kedalaman emosional dan orisinalitas hanya dapat dicapai melalui usaha pribadi. Tanpa intervensi teknologi.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita