Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL NASIONAL

UNESCO dan Kedutaan Besar Inggris Jakarta Soroti Peran Jurnalisme dalam Aksi Perubahan Iklim

UNESCO dan Kedutaan Besar Inggris Jakarta Soroti Peran Jurnalisme dalam Aksi Perubahan Iklim

Lebih lanjut disampaikanya,” kami percaya bahwa masyarakat harus bias mendiskusikan dan memperdebatkan isu-isu secara bebas, khususnya dalam menyikapi peran penting jurnalisme dalam aksi perubahan iklim, termasuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan mencermati solusi-solusi potensial. Inggris berkomitmen untuk menyoroti pelanggaran kebebasan media di seluruh dunia pada semua tingkatan. Kami percaya mereka yang menyalahgunakan atau membatasi kebebasan media harus bertanggungjawab. Keadilan iklim dan demokrasi tidak mungkin tercapai tanpa jaminan kebebasan pers dan keberadaan media yang independen, profesional, dan beragam,”tambahnya.

Dikatakanya,” seiring kita merayakan ulang tahun ke-75 hubungan diplomatik Inggris dan Indonesia tahun ini, kami berharap dapat melanjutkan kerja sama dalam isu-isu seperti kebebasan media seraya kita memperjuangkan demokrasi dan hak asasi manusia di seluruh dunia,”bebernya.

Dalam diksuksi dinamis ini, Dewi Safitri, pendiri Indonesian Journalistfor Climate (IJ4C) dan juga jurnalis untuk CNN Indonesia mengatakan, “Saya sangat berterimakasih atas kesempatan untuk berbicara di fórum terhormat ini mengenai isu iklim. Tidak ada krisis yang lebih besar yang dihadapi umat manusia dari pada perubahan iklim; ini juga merupakan seruan bagi jurnalisme untuk bertindak. Saat ini, setiap cerita adalah cerita iklim, tidak ada lagi pelaporan iklim yang terpisah karena semua verita berkaitan dengan iklim. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus mendorong isu ini ke depan di Indonesia,” jelasnya.

Acara ini mempertemukan lebih dari 100 peserta dari pemerintah, media, akademisi, dan masyarakat sipil untuk membahas tantangan dan peluang terkini bagi jurnalisme iklim di Indonesia. Hari pertama dari kegiatan ini terbuka untuk umum dan berfokus pada isu-isu utama seperti peran media dalam aksi iklim nasional dan rencana pengurangan risiko bencana, mengakses informasi publik dan data ilmiah, memerangi disinformasi iklim, dan membangun kolaborasi lintas sektoral. Sedangkan di hari kedua ditujukan bagi editor senior dan jurnalis dengan lokakarya tentang alat praktis dan praktik terbaik untuk membangun strategi editorial yang komprehensif, meningkatkan keselamatan jurnalis lingkungan, dan menggunakan alat digital serta AI untuk pemberitaan investigatif

Mendukung pelaporan iklim yang bebas, independen dan profesional merupakan prioritas bersama bagi UNESCO dan Inggris. Kedua entitasini juga bekerja sama dalam kerangka Dana Pertahanan Media Global atau Global Media Defense Fund. Inggris telah menjadi salah satu donor pertama dana tersebut yang dikelola oleh UNESCO. Sejak didirikan pada tahun 2019, dana ini telah memberikan dukungan kepada lebih dari 8.000 pengacara, jurnalis, dan LSM. Kolaborasi ini merupakan bagian dari tradisi lama UNESCO, sebagai badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bertugas mempromosikan kebebasan berekspresi dan akses terhadap informasi, UNESCO memiliki rekam jejak selama lebih dari dua dekade dalam mendukung jurnalisme kepentingan publik.

Hari Kebebasan Pers Sedunia diproklamirkan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1993 menyusul Rekomendasi yang diadopsi pada sesi ke-26 Konferensi Umum UNESCO. Ini adalah tanggal yang merayakan prinsip-prinsip dasar kebebasan pers dan memberikan penghormatan kepada jurnalis yang kehilangan nyawa dalam menjalankan profesinya.(Tim)

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita