BANGKALAN, KANALINDONESIA.COM: Sebenarnya cerita tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak, bukan merupakan barang baru lagi. Banyak sudah berita mengalir begitu saja dan membuat keprihatinan yang amat sangat mendengarnya. Termasuk di Kabupaten Bangkalan sendiri, fenomena kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak ibarat gunung es. Karena diduga banyak masyarakat yang enggan melaporkan kejadianya kepada pihak berwenang dan emoh menjadi saksi. Apalagi masalah itu terjadi dilingkungan orang dekat, bisa – bisa nanti dianggap membuka aib keluarga.
“Fenomena kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Bangkalan ibarat gunung es. Karena banyak masyarakat yang ogah melaporkan ke pihak berwenang sehingga kasusnya banyak yang terpendam dan belum terungkap, “ucap Kepala Dinas KBP3 A Kabupaten Bangkalan, Sudio yang akrab disapa Yoyok, Jum’at, (11/10/2024).
Itu sebabnya dalam upaya menanggulangi kekerasan serta perlindungan terhadap perempuan dan anak. Pemkab. Bangkalan lewat Dinas KBP3A Kabupaten Bangkalan. Menggelar Rapat Koordinasi untuk membentuk Unit Pelaksana Teknis Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Bangkalan. Bertempat di Gedung PKP RI Bangkalan dan secara resmi dibuka Setdakab Bangkalan Irman Gunadi dalam kapasitasnya mewakili Pj. Bupati Bangkalan, kemarin, Kamis, 10 Oktober 2024.
Lebih lanjut Yoyok menjelaskan bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dari tahun 2021 – 2023 terus alami peningkatan. Rincianya, tahun 2021 terjadi 32 kasus, tahun 2022, berjumlah 37 kasus dan tahun 2023 sebanyak 40 kasus. Bahkan di tahun 2024 ini diduga kasusnya lebih banyak lagi.
“Paling dominan dan terungkap kepermukaan adalah kasus pelecehan seksual terhadap anak, kekerasan seksual, perkosaan dan KDRT, ” terangnya.
Yoyok berharap dengan dibentuknya UPTD PPA di Bangkalan. Nantinya akan mampu mewujudkan Bangkalan yang aman dan ramah bagi perempuan dan anak. Sekaligus mendukung upaya peningkatan kwalitas hidup masyarakat Bangkalan.
“Dengan UPTD PPA beraksi, setidaknya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Bangkalan bisa diminimalisir, ” pungkas mantan Kepala Dinkes Bangkalan tersebut. (sumaryanto_kanalindonesia.com)

