Wayang Mbah Gandrung: Kearifan Lokal yang Warnai TMMD 122 di Desa Pagung

ARSO 20 Okt 2024
Wayang Mbah Gandrung: Kearifan Lokal yang Warnai TMMD 122 di Desa Pagung

KEDIRI, KANALINDONESIA.COM: Wayang Mbah Gandrung Saksikan Pelestarian Budaya di TMMD Ke-122 Kodim 0809/Kediri

Kediri – Pelaksanaan Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-122 Tahun Anggaran 2024 Kodim 0809/Kediri di Desa Pagung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik. Selain pengerasan jalan, rehabilitasi rumah layak huni, renovasi mushola, dan pembangunan sumur bor air bersih, TMMD kali ini juga menonjolkan pelestarian budaya lokal yang unik, yaitu pagelaran wayang sakral Mbah Gandrung.

Pagelaran ini menjadi perhatian khusus masyarakat setempat karena wayang Mbah Gandrung, yang dimainkan oleh dalang Mbah Gani, dikenal sakral dan hanya dipentaskan pada momen tertentu, seperti Suroan atau ketika ada warga yang menunaikan nazar. Lakon yang dibawakan kali ini adalah “Minak Jinggo,” sebuah cerita epik yang sarat makna.

Komandan Satgas TMMD 122, Letkol Inf Aris Setiawan, SH, mengatakan bahwa selain melaksanakan pembangunan fisik, TMMD juga berkomitmen untuk melestarikan kearifan lokal. “Di TMMD 122 ini, kami ingin memperkenalkan budaya yang ada di Desa Pagung agar lebih dikenal masyarakat luas, salah satunya adalah wayang Mbah Gandrung. Budaya ini penting untuk dilestarikan agar tidak punah,” ujarnya, Sabtu (19/10/2024).

Lebih dari sekadar kesenian, wayang Mbah Gandrung menyimpan nilai sejarah yang mendalam. Berdasarkan informasi dari warga, rumah yang digunakan untuk menyimpan wayang ini dulunya pernah menjadi tempat singgah Panglima Besar Jenderal Sudirman saat berjuang merebut kemerdekaan Indonesia dari penjajah. Hal ini menjadikan keberadaan wayang tersebut semakin sakral dan bermakna bagi masyarakat Desa Pagung.

Siswoyo, penanggung jawab wayang Mbah Gandrung, menjelaskan bahwa wayang tersebut bukanlah buatan manusia, melainkan ditemukan dalam bentuk yang sudah jadi. “Wayang-wayang ini ditemukan oleh leluhur kami dari sepotong kayu yang hanyut di sungai. Mereka bukan sekadar wayang untuk hiburan, melainkan memiliki fungsi sakral untuk pengobatan dan memohon pertolongan,” jelasnya.

Siswoyo juga mengungkapkan bahwa wayang ini sudah berusia sembilan generasi dan memiliki aturan unik dalam penggunaannya. “Wayang Mbah Gandrung tidak bisa diangkut dengan kendaraan apa pun saat diundang ke tempat lain. Harus dibawa dengan berjalan kaki, dan tidak bisa menggunakan pengeras suara. Pernah suatu ketika wayang ini dinaikkan kendaraan, namun kendaraan tersebut tidak mau menyala,” tambahnya.

Pagelaran wayang Mbah Gandrung kali ini digelar sebagai bentuk doa agar pelaksanaan TMMD 122 berjalan lancar dan sesuai harapan. “Wayang-wayang ini digelar untuk mendoakan kelancaran TMMD di Desa Pagung,” ujar Siswoyo.(Abi)