Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL JATIM

Peringatan Isra’ Mi’raj dan Haul Keluarga Khofifah Dihadiri Empat Ulama Besar Asal Mesir

Peringatan Isra’ Mi’raj dan Haul Keluarga Khofifah Dihadiri Empat Ulama Besar Asal Mesir

“Perempuan adalah pembangun peradaban. Peran perempuan di zaman ini memegang peran yang penting dan berat. Dimana saat ini orang banyak kehilangan akal dan nurani,” ujarnya.

Termasuk karena yang hadir di sini adalah dai dan mubaligh dari kalangan Muslimat NU dari berbagai daerah di Jatim. Disebutkan Syekh Mehanna, pendakwah bukanlah hal mudah.

“Bagi siapa saja yang tugasnya adalah berdakwah sesungguhnya dia menggantikan posisi Nabi Muhammad. Maka berakhlaklah yang mulia. Dan tirulah Nabi Muhammad, mulai dari penampilannya, akhlaqnya, juga perilakunya,” ujar Syekh Mehanna.

Hakikatnya, yang menjalankan dakwah adalah orang yang memiliki cahaya yang tajam. Karena dalam dakwah tidak hanya perkara menyampaikan ilmu tapi juga memberikan teladan dan juga panutan.

“Kalau orang sudah sampai di posisi berdakwah, maka orang itu akan mengajak orang lain untuk mengenal Allah,” ujarnya.

Di akhir tausiyahnya, Syekh Mehanna turut memberikan pesan tentang pentingnya memilih lingkungan yang selalu mengajak kebaikan dan menghindari keburukan.

“Jangan pernah duduk kecuali tempat itu aman dari maksiat. Jangan pergi ke suatu tempat kecuali tempat itu membuatmu melakukan kebaikan,” tegasnya.

“Dan jangan berteman kecuali dengan orang yang bisa mengajak kita lebih dekat pada Allah. Satu musuh yang bisa membuat kita mengenal Allah lebih baik daripada teman yang membuat kamu menjauh dari Allah,” pungkas Syekh Mehanna.

Senada dengan Syekh Mehanna, Prof. Dr. Syeikh Yusri Rusydi juga memberikan pesan mendalam tentang dakwah.

Disebutkannya, berdakwah adakalanya bil hikmah dan adakalanya juga dengan mauidhoh hasanah. Namun, yang harus ditekannya, kedua dakwah itu harus dilakukan sesuai dengan akhlaq Rasulullah.

“Barang siapa yang ingin menekuni dakwah maka harus belajar sifat dan akhlaq Rasulullah. Kita harus belajar sejarah Nabi Muhammad, mempelajari sunnah baik perkataan dan perbuatan,” ujarnya.

“Semua agar kita senantiasa berakhlaq seperti Nabi Muhammad sehingga tidak menjadikan orang yang kita dakwahi lari dari agama melainkan membuatnya semakin cinta dengan Islam dan Allah,” tegasnya.

Pasalnya, ditegaskan Prof Dr Syekh Yusri bahwa Nabi ketika berdakwah penuh kasih, halus dalam bertutur, bijaksana dan penuh dengan cinta. Dan Nabi Muhammad dalam dakwahnya jauh dari kata kata kasar yang jauh dari kata kata yang menyakiti orang lain.

“Dan beliau tidak pernah menyembunyikan senyumnya. Dan senantiasa menutup aib orang lain,” pungkasnya.

Dalam kesempatan ini Prof Dr Syekh Yusri juga memberikan ijazah wirid Hizib Bahr yang disusun oleh ulama besar Imam Abi Hasan Asy-Syadzili. Hizib Bahr ini terkenal dengan keutamaannya dalam memberikan perlindungan, keberkahan, dan pertolongan dari Allah SWT, khususnya dalam menghadapi berbagai kesulitan. Semoga dengan mengamalkan Hizb Bahr kita semua dibukakan pintu kebaikan, kebahagian serta kesrlamatan dunia akhirat.

Kepada semua yang hadir Khofifah menyampaikan terimakasih dan mohon maaf jika ada kekurangan.

(Tim)

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita