Ide sharing APBD tentunya sesuai kemampuan fiskal daerah , dikatakan Khofifah adalah wujud dari semangat gotong royong dalam membangun SDM yang unggul di Jawa Timur dan Indonesia. Melalui sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, menurutnya akan bisa memperluas jangkauan penerima dan mutu gizi serta percepatan penjangkauan. Tentu semuanya harus dilakukan sesuai peraturan perundang undangan yang berlaku.
“Investasi di bidang gizi bukan hanya mengatasi permasalahan kesehatan dan stunting, namun juga berkaitan erat dengan masa depan daerah dan
bangsa. Dengan mendukung MBG, kita bisa melahirkan SDM yang lebih sehat, cerdas, dan produktif di masa depan. UMKM tumbuh serta dapat membuka ruang tenaga kerja,” tegasnya.
Industri Manufaktur Jatim Lampaui Target Nasional
Tak hanya menyampaikan kekuatan Jatim sebagai lumbung pangan nasional, namun Khofifah juga menegaskan kekuatan Jatim di sektor industri manufaktur. Dimana saat ini industri manufaktur Jatim sudah mencapai 35 persen di tahun 2024. Capaian ini melampaui target nasional yang mana pemerintah pusat menargetkan industri manufaktur mencapai 30 persen di tahun 2045.
“Saat ini, Jawa Timur telah memiliki tiga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Pertama, KEK Gresik yang difokuskan pada teknologi dan manufaktur, terutama untuk sumber daya yang dihilirisasi. Kedua, KEK Singhasari di Malang yang difokuskan pada sektor digital. Ketiga, KEK Industri Halal di Sidoarjo,” tegas Khofifah.
Model KEK ini ditegaskannya terbukti cukup berhasil di Jawa Timur. Sebagai contoh, di KEK Gresik, kami berhasil menarik investasi sebesar USD 3 miliar untuk pembangunan smelter PT Freeport.
Kabupaten lainnya juga menyatakan keinginan untuk memiliki KEK di wilayahnya. Salah satunya adalah Kabupaten Bangkalan, yang telah mengajukan permohonan.
“Kami terus mengevaluasi dan mempertimbangkan pengembangan KEK lainnya di Jawa Timur,” tegasnya.
Saat ini provinsi Jawa Timur telah menjadi sentra industri
(industrial hub) baru di Indonesia dan berhasil mengundang banyak investor luar negeri. Untuk membuat Jawa Timur menjadi sentra industri, kami akan terus menonjolkan sisi strategis Jawa Timur terutama dalam mendukung perkembangan Indonesia Timur dan hilirisasi.
Fokus ini sudah berhasil melalui KEK di Gresik yang mendapat realisasi investasi IDR 33,4 triliun atau 50,6 persen dari realisasi seluruh KEK di Indonesia.
“Untuk meningkatkan strategisnya Jatim untuk industri kami akan meningkatkan akses Jatim melalui program Trans Laut Jatim untuk meningkatkan dan membangun pelabuhan-pelabuhan di Jatim penunjang kelancaran distribusi logistik di dalam wilayah Jatim, ke provinsi lainnya serta ke berbagai negara,” ujarnya.
Saat ini, Jatim telah menjadi hub dan menjadi gerbang baru nusantara. Sebab saat ini, dari 32 jalur tol laut di Indonesia Timur, sebanyak 27 diantaranya berangkat dari pelabuhan Tanjung Perak Surabaya Jawa Timur. Selain itu, Jatim juga adalah 80 persen penyuplai logistik untuk kawasan Indonesa Timur.
“Itulah mengapa kami sangat optimistis untuk menjadikan Jatim sebagai gerbang baru nusantara,” pungkasnya.
(Tim)

