Di sisi lain, Yasin juga menyoroti aksi sosial dan kegiatan berbagi selama Ramadan, seperti zakat, sedekah, atau program berbagi makanan, yang tenggelam gaya pencitraan, di mana aksi sosial lebih bertujuan untuk mendapat perhatian daripada benar-benar membantu. Perlu ada keseimbangan antara publikasi aksi sosial dengan niat yang tulus.
“Pesan Ramadan tentang aspek kesehatan mental masih kurang diangkat. Padahal, Ramadan juga bisa menjadi momen untuk memperbaiki keseimbangan emosi, mengelola stres, dan mendekatkan diri pada ketenangan spiritual,” ingatnya.
Pesan-pesan ini, kata Yasin, tenggelam oleh prank bertema Ramadan yang tidak mendidik. Di media sosial, tren semacam ini lebih banyak disukai dibanding konten edukatif tentang Ramadan.
“Padahal media massa adalah harapan. Entah itu media sosial, atau media berita. Harapan agar audience selalu diingatkan, mendapat cermin, dimantabkan, sehingga kita berjalan di koridor yang benar, dan terselamatkan,” tutup Yasin. *

