“Saat ini kita menghadapi fenomena intergenerational malnutrition, di mana Indonesia mengalami triple burden of malnutrition, yaitu kekurangan gizi, kelebihan gizi, dan kekurangan mikronutrien secara bersamaan, yang terjadi sejak masa kehamilan, kelahiran, hingga fase pertumbuhan anak. Permasalahan gizi ini umumnya disebabkan oleh asupan yang tidak memadai sesuai kebutuhan tubuh, serta praktik konsumsi yang tidak tepat dan tidak aman,” jelas Maulidah.
Beliau menegaskan bahwa tujuan utama dari program ini adalah menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif sebagai pondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Lebih lanjut, Maulidah juga mengajak seluruh unsur masyarakat untuk terlibat aktif, khususnya dalam hal pengawasan keamanan pangan.
“Kami berharap tim sekolah yang terdiri dari kepala sekolah, guru, dan perwakilan orang tua murid yang ditunjuk dapat berperan sebagai pengawas keamanan pangan di lingkungan sekolah. Demikian pula, kami mengimbau agar tim kesehatan dan tim masyarakat—terutama Ketua RT, kader kesehatan, serta warga yang ditunjuk oleh kepala desa atau kelurahan—dapat turut serta dalam memastikan bahwa pangan yang dikonsumsi masyarakat, khususnya anak-anak, aman dan bergizi.” tutup Maulidah.
Dengan keterlibatan lintas sektor dan partisipasi masyarakat yang kuat, program ini diharapkan dapat berjalan optimal dan memberikan dampak jangka panjang bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.
Dengan terwujudnya kolaborasi antara Anggota DPR RI, Badan Gizi Nasional, Dinas Kesehatan, serta seluruh elemen masyarakat, diharapkan Program Makan Bergizi Gratis dapat menjadi langkah strategis dalam menanggulangi permasalahan gizi di Banjarbaru secara berkelanjutan.
Program ini tidak hanya bertujuan untuk mencegah stunting dan gizi buruk sejak masa kehamilan hingga usia pertumbuhan anak, tetapi juga membangun kesadaran kolektif akan pentingnya konsumsi pangan yang aman dan bergizi.
Partisipasi aktif dari masyarakat, mulai dari sekolah, tenaga kesehatan, hingga tokoh masyarakat lokal, diharapkan mampu memperkuat sistem pengawasan pangan yang partisipatif dan menyeluruh. Melalui sinergi ini, diharapkan lahir generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan produktif, sebagai pondasi kuat dalam mewujudkan visi besar Indonesia Emas 2045.

