Menilik kembali fenomena deflasi di Indonesia, sekali lagi itu bukan sebuah indikasi terjadinya resesi. Inflasi inti masih terkendali dan direspons oleh Bank Indonesia melalui serangkaian kebijakan moneter, makropudensial, dan sistem pembayaran.
Di sisi inflasi pangan bergejolak
juga dimonitor terus oleh Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi
Daerah (TPID). Namun, hal ini perlu diperkuat melalui program transformasi pada sisi hulu
hingga hilir sektor pertanian.
Isu alih fungsi lahan, perubahan cuaca yang ekstrem, regenerasi petani menjadi sebuah tantangan besar di tengah kebutuhan peningkatan produktivitas pertanian. Penyediaan alat
dan mesin pertanian (Alsintan) dan pupuk dirasa tidak lagi mumpuni dalam mengejar kebutuhan pasokan.
Dengan perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang
sudah merambah ke beberapa sektor perlu ditangkap sebagai peluang di sektor pertanian.
Hal ini sudah diimplementasikan oleh petani di negara maju seperti.
Jepang dan Tiongkok.
Pemanfaatan kecerdasan buatan dalam sektor pertanian dapat bermacam-macam. Mulai
pemantauan cuaca, unsur hara tanah, jadwal pemupukan, hingga monitoring luasan dan perkiraan panen dapat dilakukan melalui gawai.
Lebih lanjut, hasil atau data yang didapatkan sangat berharga dalam pengambilan kebijakan di level daerah maupun pusat. Monitoring
perkiraan panen, jumlah stok, dan kinerja sektor pertanian dapat diperoleh dengan cepat,
lengkap, dan akurat.
Ternyata beberapa kelompok tani di Indonesia sudah banyak yang
menggunakan kecerdasan buatan ini. Namun, ternyata masih belum terlalu besar dibanding
Indonesia yang terbentang dari Sabang hingga Merauke.
Sebuah loncatan yang mampu mendorong terciptanya ketahanan pangan dan inflasi yang
terkendali. Tentunya ini membutuhkan sebuah orkestrasi yang cantik dengan seorang dirigen yang piawai dalam mengatur alunan nada dari setiap pemain.
Bila ini tercipta, isu deflasi tidak
akan muncul lagi dan petani mendapatkan kepastian dalam berusaha.

