Terlebih, kata Khofifah, Jawa Timur selama ini telah melayani 21 rute dari 39 rute Tol Laut melalui Pelabuhan Tanjung Perak. Selain itu, juga terdapat dukungan infrastruktur antara lain 7 bandara, 37 pelabuhan, 12 ruas jalan tol, 12 kawasan industri, 2 KEK, dan 1 kawasan industri halal.
“Hampir 80 persen logistik di 19 provinsi Indonesia Timur dikirim dari Jawa Timur melalui Tanjung Perak Surabaya,” ungkapnya.
Berdasarkan data BPS, Jawa Timur merupakan salah satu provinsi penyumbang perekonomian terbesar nasional dengan nilai PDRB ADHB pada Triwulan I 2025 sebesar Rp 819,3 T. Dan berkontribusi sebesar 14,42% terhadap PDB Nasional dan 25,11% terhadap PDRB Pulau Jawa.
“Capaian ini didukung dengan ekonomi Jawa Timur yang tumbuh impresif, pada Triwulan I 2025 tercatat tumbuh 5,00 persen (y-o-y), dan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 4,87 persen (y-o-y),” terangnya.
Gubernur Khofifah juga mengapresiasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur yang telah memberikan dukungan luar biasa untuk mendorong peningkatan investasi dan penguatan kolaborasi promosi investasi di tingkat nasional maupun internasional.
“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur,” ucapnya.
Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada para kepala daerah yang berpartisipasi aktif pada HLM Forum Investasi Jatim. Harapannya arahan strategis dari pertemuan ini benar-benar sampai kepada para pengambil kebijakan di daerah.
“Mohon segera diterjemahkan kedalam langkah konkret untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan investasi di masing-masing wilayah,” pesannya.
Sementara itu Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur Ibrahim menyampaikan pertumbuhan ekonomi PDRB Jawa Timur yang lebih tinggi dari nasional dan berada di urutan kedua secara nasional merupakan potensi yang luar biasa. Menurutnya potensi seperti ini patut dikelola, dipertahankan dan dilanjutkan dengan kata kunci yang harus dijadikan pedoman yaitu konsistensi, inovasi dan sinergi.
“Konsistensi, apa yang kita keluarkan baik itu policy maupun dukungan harus kita lanjutkan, lalu inovasi, dukungan terkait peraturan harus konsisten vertikal dan horizontal sehingga ada harmonisasi kebijakan disitu, dan Sinergi, kita tidak bisa sendiri semua pihak harus saling mendukung” kata Ibrahim.
“Jadi KIS, konsistensi, inovasi dan sinergi, ini menjadi kata kunci bagaimana kita bisa saling mendukung untuk iklim investasi yang kondusif di Jawa Timur,” tutupnya.(Tim)

