Wakil dari UI mengentas tema BANGSIAP. Mereka mengambil judul Inovasi Digital Desa Bebasis AI dan Sinergi Hexahelix Berkelanjutan untuk Penanggulangan Pengangguran Struktural di Bantul.
Tim FORMOSA beda lagi. Tiga anggotanya yang mengenakan Jas Almamater Hijau tua berselempang Ulos ini memaparkan karyanya berjudul Transformasi Ekonomi Desa Pesisir: Model Pendekatan Ekonomi Hijau untuk Pemberdayaan dan Pengentasan Kemiskinan Masyarakat Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara.
Keberhasilan delapan finalis ini direspon positif Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Daerah Tertinggal dan Daerah Tertentu Prof Dr rer. nat. Abdul Latif.
Saat membuka acara Prof Latif menyambut gembira dan bangga atas prestasi yang telah diraih peserta Liga Mahasiswa ini.
Ia menyebut inilah raihan yang luar biasa atas kepedulian mahasiswa berperan serta memikirkan potensi dan nasib masyarakat desa agar bisa terangkat dari garis kemiskinan.
“Pertama-tama kami banggakan kepada adik-adik mahasiswa yang telah berhasil menyisihkan hampir 1894 mahasiswa. Selamat datang adik adik semua di sini (Unesa),” sambutnya di atas podium.
Ia juga menyampaikan terimakasih kepada pihak Unesa, khususnya Rektor Prof Dr Nurasan MKes. “Di sini ada Prof Cahyo. Terimakasih Prof. Ini teman lama dan saya bisa berinteraksi di sini,” ucap Prof Latif yang disambut senyum Prof Dr Prof Dwi Cahyo Kartiko, S.Pd., M.Kes yang kini menyandang gelar profesor usai dikukuhkan sebagai guru besar Fakultas Ilmu Kesehatan dan Ilmu Keolahgraan (FIKK) Unesa.
Ia juga tak lupa mengucapkan selamat datang kepada tamu-tamu istimewa di acara finalis Liga Mahasiswa Innovilleague 2025 yang kali pertama digelar ini.
“Ada Pak Widodo,” sebutnya yang juga menyebut empat panelis lainnya.
Prof Latif melihat karya para finalis ini jika diberi sedikit stimulan mereka akan melasat. “Saya yakin adik-adik ini bisa melesat,” pujinya.
Program ini, menurut dia, sesuai dengan Instruksi Presiden tidak lain untuk mengentas kemiskinan.
“Apa yang dilakukan adik adik atau gagasan ini, sebenarnya kami tidak hanya ingin mengadu atau mengompetisikannya. Tapi lebih luas lagi,” jelas Prof Latif.
Dari sini, lanjutnya, mereka sejak dini sudah panya awarness mendefinisikan semua gagasan dan karyanya untuk pemberdayaan masyarakat.
“Ini adalah ruang diberikan untuk adik adik turut berjuang ikut memperhatikan saudara saudara kita dalam mengentas kemiskinan yang membutuhkan kontribusi, Inovasi dan solusi dari adik-adik semuanya,” harapnya.
Di tahun berikutnya, ia berharap panitia agar karya ilmiah mereka bisa monetes. Sehingga bisa memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat desa agar segera bisa mengatasi problematikanya.
Acara debat atau perang argumentasi ini berlangsung seru. Baik pertanyaan panelis maupun rekan kompetitor bisa mereka selesaikan dengan baik dan sesuai waktu.
Bahkan acara yang berakhir pukul 13.00 serasa masih kurang walaupun yang hadir lebih didominasi para peserta dan beberapa simpatisannya.
Hasil pemenangnya akan ditentukan besok (14/7/2025) di tempat yang sama Auditorium Unesa FKIK Lantai 3. (Aba)

