Indonesia Targetkan Swasembada Garam pada 2027, Pemerintah Genjot Produksi Nasional

ARSO 19 Sep 2025
Indonesia Targetkan Swasembada Garam pada 2027, Pemerintah Genjot Produksi Nasional

SIDOARJO, KANALINDONESIA.COM: Pemerintah Indonesia menargetkan pencapaian swasembada garam secara penuh pada tahun 2027, sebagai bagian dari strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor serta memperkuat ketahanan pangan dan industri nasional. Hal ini disampaikan oleh Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Didit Herdiawan, dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi IV DPR RI, Selasa lalu.

Menurut Didit, kebutuhan nasional terhadap garam mentah diperkirakan mencapai 4,9 juta ton pada tahun 2024 dan 2025. Permintaan ini diproyeksikan meningkat sekitar 2,5 persen per tahun, seiring dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangan sektor industri seperti makanan, petrokimia, dan tekstil.

Namun demikian, produksi garam dalam negeri tahun ini baru ditargetkan sebesar 2,25 juta ton. Jika ditambah dengan stok yang tersedia saat ini sebesar 836 ribu ton, total pasokan lokal hanya mampu mencukupi sekitar 63 persen dari kebutuhan nasional.

“Masih ada gap pasokan yang cukup besar, terutama untuk sektor industri,” ujar Didit.

Proyek Tambak Baru dan Revitalisasi

Untuk mengatasi kekurangan tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meluncurkan sejumlah program strategis guna meningkatkan kapasitas produksi nasional. Salah satu proyek unggulan adalah pembangunan tambak garam seluas 13.000 hektare di Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Proyek ini ditargetkan mampu meningkatkan produksi nasional menjadi 2,6 juta ton dalam beberapa tahun ke depan.

Selain membuka lahan baru, pemerintah juga berencana merevitalisasi tambak-tambak garam yang sudah ada di berbagai daerah. Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Koswara, menjelaskan bahwa produktivitas tambak eksisting dapat ditingkatkan hingga 30 persen melalui penggunaan teknologi pengolahan yang lebih efisien dan pelatihan bagi para petambak.

Kebutuhan Industri Masih Diimpor

Koswara menambahkan bahwa Indonesia sejatinya telah mampu memenuhi kebutuhan garam konsumsi rumah tangga secara mandiri. Namun untuk kebutuhan industri—yang memerlukan kualitas dan volume tertentu—Indonesia masih mengandalkan impor, terutama dari Australia dan India.

“Target swasembada garam pada 2027 tidak hanya bertujuan menekan impor, tetapi juga membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan petambak, dan memperkuat industri hilir berbasis bahan baku garam dalam negeri,” ungkapnya.

Tantangan Cuaca

Di sisi lain, sejumlah petani garam di berbagai daerah masih menghadapi tantangan cuaca yang memengaruhi masa panen. Salah satunya adalah Indri, seorang petani garam di Desa Tambak Cemandi, Sidoarjo, Jawa Timur. Ia mengungkapkan bahwa hujan yang masih kerap turun membuat proses panen molor dari jadwal.

“Seharusnya sudah mulai panen, tapi karena hujan, kami harus menunggu cuaca benar-benar panas agar kristal garam bisa terbentuk sempurna,” ujarnya pada Jumat (18/9).

Dengan upaya terintegrasi antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku usaha, Indonesia berharap dapat segera keluar dari ketergantungan terhadap garam impor serta menjadikan sektor pergaraman sebagai bagian penting dari perekonomian nasional. (Wan)