Update, Korban Robohnya Bangunan Ponpes di Sidoarjo Bertambah 2 Meninggal, Total 3 Orang

Sejumlah tim SAR gabungan dibantu alat berat mengupayakan proses pencarian dan pertolongan terhadap korban yang masih terjebak atas insiden robohnya bangunan pondok pesantren di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (29/9).
SIDOARJO, KANALINDONESIA.COM: Korban meninggal dalam insiden robohnya Musala Asrama Putra Ponpes Al Khoziny Buduran, Sidoarjo yang awalnya satu orang kini bertambah 2 orang hingga total 3 orang meninggal dunia.
Sebelumnya terdata satu korban meninggal dunia yakni atas nama Maulana Alfan Ibrahim (11) santri asal Surabaya yang sempat dilarikan ke Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo.
Dua santri yang meninggal dunia yaitu Mochammad Mashudulhaq asal Kali Kendal. Dukuh Pakis, Surabaya dan Muhammad Sholeh (22) santri asal Pandan, Bangka Belitung. Keduanya sempat dirawat di RSUD RT Notopuro Sidoarjo.
Tim gabungan masih melakukan pencarian terhadap 38 orang yang dilaporkan belum ditemukan dan diduga terjebak dalam reruntuhan.
Dari total hampir 100 santri yang menjadi korban dalam peristiwa bencana itu, rinciannya sebanyak 38 korban sempat dirawat RSUD RT Notopuro Sidoarjo, 6 korban mendapat perawatan tim medis Rumah Sakit Delta Surya Sidoarjo dan sekitar 49 korban (santri) juga sempat dirawat di RSI Siti Hajar, Sidoarjo.
Pengasuh Ponpes Al Khoziny Buduran, KH Abdus Salam Mujib menyampaikan duka mendalam atas musibah itu.
Kiai yang akrab disapa Gus Mujib ini, menjelaskan bangunan yang roboh itu merupakan sebuah musala yang masih dalam tahap akhir proses pengecoran (pembangunan).
“Pembangunan ini, proses pengecoran yang terakhir. Pembangunan sudah mulai sekitar 10 bulan lalu sekarang tinggal finishing. Dhuhur itu seharusnya pengecoran sudah selesai. Sepertinya penopang cor tidak kuat sehingga menekan ke bawah dan ambruk total,” tegasnya.
Gus Mujib mengaku pihaknya belum mengetahui jumlah pasti santri yang berada di dalam musala saat kejadian ambruknya bangunan itu. Saat kejadian, dirinya tidak ikut berjamaah Salat Ashar lantaran berada diluar.
“Saat kejadian saya tidak ikut ngimami (menjadi imam Salat). Bangunan itu terdiri dari lantai satu dipakai salat dan yang di atas memang untuk pertemuan dan masih kosong karena belum digunakan sama sekali,” tegasnya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sidoarjo bersama BASARNAS, BPBD Provinsi Jawa Timur, Forkopimda Sidoarjo, BPBD Kota Surabaya, BPBD Kota Gresik, BPBD Kabupaten Nganjuk, BPBD Kabupaten Mojokerto, BPBD Kabupaten Jombang dan unsur relawan SAR terus melakukan operasi pencarian dan evakuasi hingga hari ini.
“Upaya assessment lokasi kejadian, pemantauan struktur bangunan yang tersisa, serta penyiapan jalur evakuasi korban menjadi fokus utama tim di lapangan,”ucap Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.
Sementara sejak sore hingga malam dan dini hari puluhan ambulans terus hilir mudik dan silih berganti membawa korban ke tiga rumah sakit rujukan di Kota Delta itu. Tim gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD dan para relawan masih berjibaku di lokasi dengan bantuan alat berat melaksanakan proses evakuasi yang dilakukan secara ekstra hati-hati. Hal ini, karena sisa bangunan masih rawan ambruk lagi.
Sejumlah alat berat tambahan diturunkan untuk mempercepat proses pencarian dan evakuasi. Dipastikan proses evakuasi dijadwalkan berlangsung tanpa henti hingga seluruh korban ditemukan. Suasana di sekitar lokasi masih dipenuhi tangis keluarga santri dan warga yang menanti kabar dari tim penyelamatan kemanusiaan itu.(Tim)






















