CIREBON, KANALINDONESIA.COM – Proses seleksi calon komisioner Komisi Informasi (KI) Kota Cirebon tengah menjadi sorotan publik. Pasalnya, dugaan praktik nepotisme mencuat setelah salah satu dari lima calon komisioner dengan nilai tertinggi diketahui merupakan adik kandung dari anggota DPRD Kota Cirebon, yang juga tercatat sebagai bagian dari tim uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test).
Presiden Kaukus Muda Kota Cirebon, Reno Sukriano, menilai proses seleksi tersebut sarat dengan potensi konflik kepentingan. Ia mengaku sejak awal sudah mengingatkan seluruh pihak yang terlibat dalam seleksi, mulai dari panitia seleksi (pansel), tim seleksi (timsel), hingga tim penguji, agar menjaga integritas dan tidak melakukan intervensi dalam bentuk apa pun.
“Dari awal saya sudah peringatkan, jangan ada cawe-cawe. Ini seleksi komisioner Komisi Informasi yang nantinya berperan mengawal pelaksanaan Undang-undang Keterbukaan Informasi Publik,” tegas Reno, Rabu (29/10/2025).
Reno menambahkan, proses seleksi komisioner seharusnya berjalan secara objektif, transparan, dan bebas dari kepentingan politik. Ia khawatir dugaan keberpihakan terhadap calon tertentu akan mencederai semangat keterbukaan yang justru menjadi ruh utama lembaga tersebut.
“Kami berharap seleksi ini bersih dan profesional. Jangan sampai ada permainan atau titipan. Jika itu terjadi, kepercayaan publik bisa runtuh,” ujarnya.
Lebih lanjut, Reno mengungkapkan bahwa indikasi konflik kepentingan sebenarnya sudah tercium sejak tahap seleksi awal, ketika jumlah peserta disaring dari 40 orang menjadi 15 besar. Menurutnya, proses tersebut diduga kuat diwarnai praktik titip-menitip calon.
“Maka satu-satunya jalan adalah keterbukaan total, sesuai amanat UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik,” katanya menegaskan.
Sebagai langkah konkret, Reno mendesak agar seluruh dokumen pendaftaran, hasil penilaian, dan skor peserta dari setiap tahapan seleksi dipublikasikan secara terbuka kepada masyarakat.
“Buka semua data! Dari dokumen persyaratan hingga hasil tes. Kalau memang prosesnya bersih, tak perlu takut untuk transparan,” pungkasnya.

