Area parkir sepeda motor dipadati, dan deretan mobil, termasuk yang berplat nomor luar kota, mulai berjejer rapi di lahan parkir sementara. Sebuah anomali yang menawan, di tengah intaian hukum, rakyat memilih berkunjung, seolah memberi suara dukungan yang tak terucapkan.
Meskipun di bawah sorotan tajam, denyut nadi pembangunan tak lantas terhenti. Proyek tetap bergerak. Salah satu yang terlihat adalah pemasangan paving untuk area parkir yang kian dimantapkan. Ini adalah isyarat bahwa komitmen untuk menyelesaikan ikon ini tetap membara, meski badai menghadang.
Namun, dampak yang paling nyata adalah geliat di sektor riil. Perekonomian rakyat kini berdetak kencang di kaki Monumen Reog. Deretan pedagang kian menjamur, dari penjual suvenir hingga penjaja kuliner khas. Salah satu pedagang yang sibuk meracik kopi dan sarapan legendaris Ponorogo, nasi pecel, berbagi testimoni tulus.
“Jujur, kami warga sekitar sudah merasakan manfaatnya. Ini bisa menambah penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk menyekolahkan anak-anak,” ucap salah satu pedagang tempat penulis berteduh.
Bagi mereka, monumen ini adalah harapan baru, sebuah jembatan menuju kesejahteraan yang telah lama dinantikan.
Monumen Reog ini telah menjelma menjadi daya tarik wisata tiada tara, memanggil pelancong dari lokal hingga penjuru kota. Bagi pengunjung, isu yang mendera hanyalah riuh angin lalu yang tak perlu dihiraukan. Fokus utama mereka adalah keindahan dan potensi yang luar biasa dari mahakarya ini.
Optimisme ini disuarakan lantang oleh Toni, seorang pengunjung asal Balong yang kini merantau. “Eman (sayang) sekali kalau pembangunan ini sampai berhenti. Ini akan menjadi maskot dan ikon abadi untuk Ponorogo,” tegasnya.
Ia menambahkan, “Kami yang selama ini tinggal di luar Ponorogo menyayangkan jika terhenti, karena ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi kami warga Ponorogo yang tinggal di luar kota. Kami berharap pihak-pihak terkait bisa mempertimbangkan ulang. Ini adalah kebanggaan rakyat Ponorogo dan pegiat seni Reog!,”tuturnya.
Di tengah isu yang menguji, Monumen Reog dan Museum Peradaban di Sampung bukan sekadar tumpukan beton, melainkan monumen harapan, simbol peradaban, dan bara api pendorong ekonomi rakyat yang tak boleh dibiarkan padam. Ia berdiri tegak, menantang badai, dan terus memanggil jutaan pasang mata untuk menyaksikan kemegahan budaya Ponorogo yang tak lekang dimakan zaman. (Tim)

