Mengejutkan! Suami Dewi Astutik: Saya Syok, Istri yang Dikira PMI Ternyata Otak Penyelundupan 2 Ton Sabu

Mengejutkan! Suami Dewi Astutik: Saya Syok, Istri yang Dikira PMI Ternyata Otak Penyelundupan 2 Ton Sabu

Istimewa

PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: Sarno, suami dari Dewi Astutik alias Pariatin (43), warga Desa Balong, Ponorogo, Jawa Timur, mengaku sangat terkejut dan syok setelah mengetahui fakta mengejutkan tentang istrinya.

Dewi Astutik, yang selama ini ia kenal hanya sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Taiwan, ternyata adalah buronan Interpol (Red Notice) dan diduga kuat menjadi aktor intelektual serta pengendali utama penyelundupan 2 ton sabu senilai sekitar Rp5 triliun dari jaringan internasional Golden Triangle.

Sarno mengungkapkan rasa keterkejutannya yang mendalam di kampung halaman mereka di Dusun Sumber Agung, Ponorogo, menyusul kabar penangkapan sang istri di Kamboja.

“Ya kulo nggih syok, kaget ngoten. Tapi kulo pun pasrah punan niki (Saya ya syok, kaget begitu. Tapi saya sudah pasrah saja sekarang),” ungkap Sarno dengan nada terkejut.

Ia menegaskan bahwa ia tidak mengetahui sama sekali aktivitas terlarang istrinya di luar negeri. Menurut keterangannya, Dewi Astutik berpamitan ke Taiwan sekitar tahun 2024, sebelum bulan puasa, dan selama ini hanya sesekali mengirimkan uang untuk jajan anak.

Sarno juga menambahkan bahwa ia dan keluarga sebelumnya sudah menasihati Pariatin agar tidak lagi bekerja di luar negeri karena alasan perilaku. Namun, nasihat tersebut diabaikan oleh sang istri.

Kabar kehebohan di Ponorogo ini muncul setelah Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Interpol berhasil menangkap Dewi Astutik alias Mami di Sihanoukville, Kamboja, pada Senin (1/12/2025).

Penangkapan tersebut mengonfirmasi peran Dewi Astutik sebagai figur penting yang memimpin operasi sindikat narkoba internasional.

Ia menjadi buronan Interpol setelah terlibat dalam kasus penyelundupan 2.115,130 gram sabu (lebih dari 2 ton) pada Mei 2025.

Dewi Astutik diidentifikasi sebagai pengendali utama jaringan narkotika yang berbasis di kawasan Golden Triangle (perbatasan Thailand, Myanmar, dan Laos) serta terhubung dengan sindikat asal Afrika.

Selain sebagai pemimpin operasional, Dewi berperan aktif merekrut kurir Warga Negara Indonesia (WNI) untuk jaringan perdagangan narkotika Asia-Afrika.

Penangkapan Dewi dilakukan di Sihanoukville saat ia keluar dari sebuah hotel dan berada di dalam kendaraan, tanpa perlawanan.

Saat ini, BNN telah menerbangkan kembali Dewi Astutik ke Indonesia dan menahannya untuk proses hukum lebih lanjut.

BNN berkomitmen melanjutkan pemeriksaan intensif guna membongkar pendanaan, logistik, dan seluruh struktur jaringan narkoba yang dikendalikan oleh gembong tersebut.