Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL JATIM

ITS dan PLN Dorong Sampah Jadi Energi Bersih, Cofiring Biomassa Turunkan Emisi 832 Ribu Ton CO₂

ITS dan PLN Dorong Sampah Jadi Energi Bersih, Cofiring Biomassa Turunkan Emisi 832 Ribu Ton CO₂

SURABAYA, KANALINDONESIA.COM: Upaya mempercepat pengelolaan sampah ramah lingkungan kembali ditegaskan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), lewat kolaborasi strategis bersama PT PLN Nusantara Power (PLN NP) dan PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI).
Sinergi tersebut dibahas dalam seminar di Galeri Riset dan Inovasi Teknologi (GRIT), Gedung Research Center ITS, Jumat (5/11/2025).
Seminar yang digelar Pusat Studi Pengembangan Industri dan Kebijakan Publik (PIKP) ITS ini, menghadirkan Kepala Pusat Studi PIKP ITS Arman Hakim Nasution, Wakil Ketua Bidang Pengembangan Teknologi PLN NP Ardi Nugroho, serta Tutuko dari PLN EPI, sebagai nara sumber.
Arman Hakim membuka paparan dengan menyoroti persoalan klasik pengelolaan sampah di Indonesia, yang masih bertumpu pada lahan terbuka.
“Tanah yang semestinya bisa diinvestasikan untuk aktivitas produktif, justru habis untuk menimbun sampah. Ini tidak berkelanjutan,” ujarnya.
Ia berharap implementasi Perpres No.19/2025 tentang penanganan sampah berbasis energi ramah lingkungan, mampu menciptakan kekuatan ekonomi baru sekaligus mendorong kesadaran masyarakat.
Di sisi lain, Ardi Nugroho memaparkan langkah konkret PLN NP untuk mengurangi ketergantungan pada batubara, melalui program Cofiring Biomassa di 25 PLTU. Program ini tercatat berhasil menekan emisi hingga 832 ribu ton CO₂ per September 2025.
Ardi menegaskan, Cofiring Biomassa tidak hanya berdampak pada lingkungan. Tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal.
“Satu PLTU didukung lima sampai sepuluh perusahaan pemasok biomassa. Program Hutan Tanaman Energi saja, menambah sekitar 700 tenaga kerja,” jelasnya.
Ia menambahkan, biomassa yang digunakan berasal dari berbagai sektor. “Diantaranya serbuk dan limbah kayu dari perhutanan, sekam padi dari pertanian, hingga kulit kopi dari perkebunan. Kebutuhannya diprediksi mencapai puncak 8,6 juta ton pada 2034,” tuturnya.
Sementara itu, Tutuko dari PLN EPI mengingatkan, bahwa tidak semua sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bisa dikonversi menjadi energi.
“Pengelolaan sampah harus melalui pemilahan, pencacahan, hingga penghancuran. Hasil akhirnya berupa Fluff BBJP atau RDF,” jelasnya.
ITS menilai percepatan pemanfaatan biomassa dan RDF, merupakan langkah penting memperkuat ekonomi sirkuler. Sekaligus mempercepat pencapaian SDGs, khususnya poin energi bersih, pertumbuhan ekonomi, dan kemitraan.
Kolaborasi lintas sektor ini, diharapkan menjadi model pengelolaan sampah modern yang bisa diterapkan lebih luas di kota-kota besar Indonesia.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita