Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL TUBAN

Cuaca Ekstrem Selama Nataru, BMKG Imbau Masyarakat Tetap Hati-hati

Cuaca Ekstrem Selama Nataru, BMKG Imbau Masyarakat Tetap Hati-hati
Keadaan langit Tuban yang menunjukkan cuaca cerah, namun hujan bisa datang secara tiba-tiba. (Foto: Najib/kanalindonesia.com)

TUBAN, KANALINDONESIA.COM: Cuaca di Kabupaten Tuban dalam beberapa hari terakhir menunjukkan pola yang tidak menentu. Meski pagi hingga siang hari kerap diawali dengan langit cerah, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dapat turun secara tiba-tiba. Kondisi ini diperkirakan akan berlanjut selama masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas III Tubam memprediksi potensi cuaca ekstrem mqsih akan terjadi. Masyarakat pun diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap risiko bencana hidrometeorologi yang dapat muncul sewaktu-waktu.

Kepala Stasiun BMKG Kelas III Tuban, Muchamad Nur, menjelaskan bahwa berdasarkan rilis BMKG Juanda, wilayah Jawa Timur termasuk Kabupaten Tuban masuk dalam zona waspada cuaca ekstrem sejak 21 hingga 31 Desember 2025. Potensi hujan dengan intensitas bervariasi diperkirakan terjadi pada siang hingga sore hari.

“Masyarakat perlu mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi, seperti hujan lebat, angin puting beliung, hingga kemungkinan banjir dan tanah longsor,” ujar Nur.

Ia juga mengimbau warga yang beraktivitas di wilayah perbukitan dan tebing agar lebih berhati-hati. Risiko pohon tumbang, jalan licin, serta berkurangnya jarak pandang menjadi ancaman yang perlu diantisipasi saat hujan deras mengguyur.

“Saat ini seluruh wilayah Jawa Timur telah memasuki musim penghujan, bahkan di beberapa daerah sudah mendekati puncaknya. Kami berharap masyarakat rutin memantau informasi cuaca resmi agar aktivitas dan perjalanan liburan tetap aman,” tambahnya.

Berdasarkan analisis atmosfer, peningkatan cuaca ekstrem dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antaranya aktifnya monsun Asia yang membawa massa udara basah ke wilayah Indonesia, serta keberadaan bibit siklon tropis 93S di Samudra Hindia selatan Jawa Barat. Kondisi tersebut turut memicu peningkatan curah hujan dan gelombang laut di wilayah Jawa Timur. Selain itu, perairan Selat Madura yang hangat mendorong pertumbuhan awan konvektif secara masif.

BMKG memprediksi puncak musim penghujan di Jawa Timur akan terjadi pada Januari hingga Februari mendatang. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap sigap menghadqpi perubahan cuaca ekstrem dan mengutamakan keselamatan dalam setiap aktivitas. (Najib)

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita