PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: Sejarah seringkali menyimpan narasi penting di balik peristiwa pelarian politik. Kunjungan Sri Susuhunan Pakubuwana XIV ke Pringgitan Rumah Dinas Bupati Ponorogo pada Kamis (25/12/2025) bukan sekadar seremonial belaka, melainkan sebuah napak tilas historis yang menegaskan hubungan simbiosis antara Keraton Surakarta dan Ponorogo.
Akar hubungan ini dapat ditarik kembali ke periode krisis tahun 1743–1745, sebuah era yang dikenal dalam historiografi Jawa sebagai Geger Pacinan.
Konflik besar yang meluluhlantakkan Keraton Kartasura tersebut memaksa Sri Susuhunan Pakubuwana II untuk mencari perlindungan di wilayah timur.
Menurut KRMT Pustokoningrat, Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta, Ponorogo menjadi titik yang sangat menentukan bagi keberlangsungan Dinasti Mataram.
Saat Pakubuwana II mengungsi ke wilayah Sawoo, Ponorogo, Ia tidak hanya sekadar bersembunyi, tetapi sedang menyusun strategi kedaulatan.
“Di Sawoo, Pakubuwana II menyusun taktik untuk merebut kembali Keraton Kartasura. Melalui informasi dari Kyai Ageng Hasan Besari, beliau mendapat kepastian bahwa bupati-bupati di seluruh Jawa Timur masih setia kepada Mataram,” ungkap KRMT Pustokoningrat.
Dukungan moral dan militer dari para pemimpin lokal yang dipimpin oleh Bupati Ponorogo saat itu menjadi katalisator keberhasilan kembalinya Pakubuwana II ke tampuk kekuasaan, yang nantinya menandai transisi menuju berdirinya Surakarta Hadiningrat.
Hubungan ini tidak berhenti pada urusan militer. Secara ilmiah, Ponorogo diakui sebagai pusat intelektual bagi Keraton Surakarta. Pesantren Tegalsari yang diasuh oleh Kyai Ageng Hasan Besari menjadi institusi pendidikan utama bagi para bangsawan dan pujangga keraton.
Salah satu bukti autentiknya adalah Raden Ngabehi Ronggowarsito, pujangga besar Jawa, yang merupakan alumni dari Pesantren Tegalsari.
Hal ini membuktikan bahwa Ponorogo adalah “rahim” bagi pemikiran-pemikiran besar yang membentuk identitas budaya Jawa di Surakarta.
Kunjungan Pakubuwana XIV kali ini bertujuan untuk mengaktifkan kembali “jalur sutra” kebudayaan dan pengetahuan tersebut. Rencana kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Ponorogo dan Keraton Surakarta diharapkan mampu membangkitkan kembali kejayaan ilmu pengetahuan yang pernah bersinergi selama ratusan tahun.
“Harapannya, setelah kunjungan ini, dapat disusun berbagai program bersama untuk membangkitkan kembali kejayaan ilmu pengetahuan dan kebudayaan bagi Surakarta dan Ponorogo,” pungkas KRMT Pustokoningrat.
Perjalanan ini menegaskan bahwa sejarah bukan hanya tentang masa lalu, melainkan fondasi untuk membangun sinergi di masa depan.

