Bendahara DPD PDIP Jatim ini mengingatkan, lonjakan pasien flu berat bisa melumpuhkan layanan kesehatan umum. Karena itu, manajemen fasilitas kesehatan harus disiapkan sejak awal.
“RS perlu buffer kapasitas. Alur pasien flu dan non-flu harus dipisah,” ujarnya.
Tak kalah penting, soal komunikasi publik. Menurut bubda Wara, kepanikan bisa lebih berbahaya dari virus itu sendiri, karenanya harus melalui satu pintu untuk informasi yang disampaikan, “Satu pintu informasi. Jangan simpang siur. Publik harus tenang, tapi siaga,” katanya.
Mengacu pada kejadian Covid 19, Politis aksi Kediri ini meminta penangan khusus
yaitu perlindungan kelompok rentan. Lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta harus menjadi prioritas, dan Puskesmas menjadi ujung tombak deteksi dini, “Puskesmas harus aktif memantau. Edukasi keluarga juga penting,” tambahnya.
Agar tidak menjadi beban satu lembaga saja yaitu sektor kesehatan, harus pula melakukan koordinasi lintas sektor.
“Dishub, Dinas Pendidikan, BPBD, hingga Kominfo harus dilibatkan. Respons harus cepat dan terkoordinasi,” tandasnya.
Dirinya juga meminta Pemprov Jatim menyiapkan skenario terburuk. Mulai dari penyesuaian kegiatan massal, pengaturan kerja fleksibel ASN, hingga perlindungan layanan publik esensial.
“Super flu adalah ancaman nyata. Kuncinya satu: cepat mendeteksi, tepat berkomunikasi, dan konsisten melindungi masyarakat,” pungkas legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kediri.
Sementara itu Juru bicara Kemenkes RI, Widyawati, menjelaskan data tersebut berasal dari pemantauan terhadap kasus super flu atau infeksi influenza A (H3N2) subclade K ini twrus dilakukan.
Dari temuan yang ada, kata Widyawati, karakteristik pasien, mayoritas kasus ditemukan pada perempuan dengan proporsi sekitar 64 persen. Kelompok anak usia 1 hingga 10 tahun juga menjadi kelompok paling terdampak, menyumbang sekitar 35 persen dari total kasus.
Kondisi ini menunjukkan perlunya kewaspadaan lebih, terutama di wilayah dengan kasus tinggi seperti Jawa Timur, serta penguatan upaya pencegahan dan deteksi dini di kelompok rentan. Nang

