Polemik Akuisisi PSIT Cirebon Mencair, Asep Sholeh dan Aljun Sepakat Bangun Sepak Bola Daerah

FREDY 14 Jan 2026
Polemik Akuisisi PSIT Cirebon Mencair, Asep Sholeh dan Aljun Sepakat Bangun Sepak Bola Daerah

CIREBON, KANALINDONESIA.COM – Proses akuisisi Persatuan Sepakbola Indonesia Tjirebon (PSIT) Cirebon yang sempat menjadi polemik mulai menemukan titik terang.

Dua tokoh yang terlibat, pengusaha muda asal Kota Cirebon Asep Sholeh Fakhrul Insan dan Direktur PT Puma Aljun Abadi, Papap Aljun Hendro, memilih jalan dialog demi masa depan sepak bola Cirebon dan sekitarnya.

Di tengah perdebatan soal legalitas dan prosedur pengambilalihan klub, ada satu visi yang sama, yakni kecintaan terhadap sepak bola daerah. Proses akuisisi PSIT yang dilakukan Asep Sholeh sebelumnya memang menuai sorotan, lantaran dinilai sejumlah pihak masih menyisakan persoalan administrasi dan hukum.

Aljun mengaku sempat terkejut ketika mengetahui dokumen nota kesepahaman (MoU) PSIT Cirebon disebut masih berada di meja notaris PT Puma Aljun Abadi. Situasi tersebut sempat memicu ketegangan dan polemik di ruang publik.

Namun suasana panas itu akhirnya mencair setelah keduanya bertemu dalam sebuah pertemuan bernuansa kekeluargaan di salah satu kafe di kawasan Jalan Kartini, Kota Cirebon, Rabu (14/1/2026) malam. Aljun bahkan menyebut pertemuan tersebut sebagai pertemuan “kakak dan adik yang sama-sama gila bola”.

“Kami ini sama-sama mencintai sepak bola untuk Cirebon dan Majalengka. Yang terjadi kemarin itu sebenarnya hanya miskomunikasi dan ketidaktahuan. Kang Asep orang yang luar biasa, punya visi besar. Saya justru senang kalau ada anak muda yang lebih hebat dan peduli dengan PSIT,” ujar Aljun.

Ia menegaskan kesiapannya untuk tetap membantu PSIT jika masih dibutuhkan, dalam posisi dan peran apa pun. Menurutnya, membangun klub sepak bola tidak hanya soal manajemen, tetapi juga menyangkut pembiayaan, kualitas pemain, serta kolaborasi yang solid.

“Kalau kita kolaborasi, rasanya akan jauh lebih kuat. Polemik ini muncul karena ada kebutuhan masa lalu yang harus diselesaikan, sehingga terjadi miskomunikasi. Tapi setelah kami bertemu, ternyata tujuan kita sama,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Asep Sholeh Fakhrul Insan menyebut pertemuan tersebut sebagai momentum untuk merajut kembali kepercayaan demi masa depan PSIT Cirebon. Ia menegaskan tidak ada niat untuk mengesampingkan peran pihak-pihak yang telah lebih dulu membesarkan klub.

“Pertemuan malam ini adalah pertemuan kakak dan adik yang sama-sama gila bola. Abang Aljun ini guru kami, kakak kami, yang sudah merawat PSIT sampai bisa berprestasi seperti sekarang. Itu tidak boleh kita lupakan, justru harus kita apresiasi,” tutur Asep.

Asep mengakui pengalamannya dalam mengelola sepak bola masih terbilang baru dibandingkan Aljun. Namun ia optimistis, dengan menyatukan pengalaman dan semangat generasi muda, PSIT Cirebon dapat melangkah lebih jauh.

“Tujuan kita sama. Cirebon, Majalengka, bahkan Ciayumajakuning harus punya sepak bola yang bisa menembus level nasional. Kita ingin PSIT bangkit, maju, dan tidak mundur lagi. Tidak ada yang salah dari kedua belah pihak, hanya komunikasi yang perlu kita satukan,” tegasnya.

Dengan mencairnya polemik tersebut, publik kini menaruh harapan besar agar PSIT Cirebon dapat kembali fokus membangun prestasi dan menjadi kebanggaan sepak bola daerah.