Masalah muncul ketika pompa mulai dioperasikan pada 8 Januari 2026. Saat itu, air yang keluar bercampur dengan cairan yang diduga mengandung minyak bumi. “Pada saat pengoperasian pompa, air keluar bersamaan dengan cairan yang secara visual diduga minyak. Inilah yang kemudian dilaporkan warga,” jelas Aris.
Menindaklanjuti temuan tersebut, pihak PHE WMO telah mengambil sampel air untuk diuji lebih lanjut. “Sampel air sudah diambil sebanyak tiga botol pada kedalaman 8 meter dan 16 meter. Hasilnya nanti akan disampaikan oleh SKK Migas Jabanusa untuk memastikan apakah benar cairan tersebut mengandung minyak bumi atau tidak,” tegasnya.
Sambil menunggu hasil uji laboratorium, pemerintah daerah setempat telah mengambil langkah antisipatif. Melalui pihak Kecamatan Klampis, warga diminta untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran di sekitar lokasi sumur. “Kami juga melarang warga mengambil cairan yang diduga minyak itu untuk keperluan apa pun demi keselamatan bersama,” kata Aris.
Ia menambahkan, koordinasi lintas sektor terus dilakukan, melibatkan DLH, BPBD, pemerintah kecamatan dan desa, hingga aparat keamanan. “Keselamatan warga menjadi prioritas. Setelah hasil uji keluar, baru akan ditentukan langkah teknis selanjutnya,” pungkasnya. Nang

