Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL NASIONAL

Cincin Api Menghiasi Langit, Fenomena Gerhana Matahari Cincin Pukau Jutaan Pasang Mata

Cincin Api Menghiasi Langit, Fenomena Gerhana Matahari Cincin Pukau Jutaan Pasang Mata

JAKARTA, KANALINDONESIA.COM: Fenomena astronomi langka, Gerhana Matahari Cincin (GMC), baru saja berlangsung dan menyuguhkan pemandangan spektakuler di sejumlah wilayah. Fenomena yang sering dijuluki sebagai “Ring of Fire” atau Cincin Api ini terjadi ketika Bulan berada di titik terjauh dari Bumi, sehingga tidak dapat menutup seluruh piringan Matahari secara sempurna.

Sisa piringan Matahari yang tidak tertutup inilah yang membentuk lingkaran cahaya terang di tepi luar Bulan, menciptakan visual menyerupai cincin emas raksasa di kegelapan langit siang hari.

Di wilayah yang dilintasi jalur antumbra, kegelapan sempat turun perlahan meski tidak sepekat gerhana matahari total. Penurunan suhu udara juga dirasakan oleh warga yang melakukan pengamatan di titik-titik kumpul astronomi.

Puncak Gerhana: Berlangsung selama kurang lebih 3 hingga 5 menit di titik pusat jalur.

Wilayah Pengamatan: Jalur cincin melintasi sebagian besar wilayah Samudra Pasifik dan sebagian Amerika Selatan, sementara wilayah sekitarnya hanya dapat menyaksikan Gerhana Matahari Sebagian.

Ribuan warga bersama komunitas astronomi berkumpul di berbagai observatorium dan ruang terbuka hijau untuk menyaksikan peristiwa ini. Para ahli astronomi terus mengingatkan pentingnya penggunaan kacamata gerhana khusus (filter ND5) guna menghindari kerusakan permanen pada retina mata.

“Ini adalah pengingat luar biasa tentang presisi mekanika langit. Meskipun kita sudah sering melihat fotonya, menyaksikan transisi cahaya secara langsung adalah pengalaman spiritual bagi banyak orang,” ujar salah satu pakar dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Bagi masyarakat yang melewatkan momen ini, para astronom memprediksi fenomena serupa akan kembali melintasi wilayah yang berbeda dalam kurun waktu 1-2 tahun ke depan. Para peneliti kini tengah mengumpulkan data atmosfer selama gerhana untuk memahami pengaruh radiasi matahari terhadap lapisan ionosfer Bumi.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita