SIDOARJO, KANALINDONESIA.COM : Di sebuah rumah kontrakan sederhana di Desa Banjarbendo, Sidoarjo, suara merdu itu kerap terdengar mengalun. Bukan sekadar latihan biasa, melainkan harapan yang sedang dirajut pelan-pelan oleh seorang bocah kelas 5 SDN Banjarbendo bernama Bismo Daru.
Di usianya yang masih belia, Bismo sudah mengenal arti kehilangan. Sejak umur empat tahun, ia harus menerima kenyataan kedua orang tuanya berpisah. Kini, ia tinggal bersama sang ibu dan adik kandungnya. Tanpa sosok ayah di rumah, hari-hari Bismo justru diisi dengan semangat yang tak biasa untuk anak seusianya.
Alih-alih larut dalam kesedihan, Bismo memilih bernyanyi.
“Sejak kecil memang sudah hobi nyanyi. Waktu mama dan papa berpisah, itu jadi pukulan buat saya. Tapi lama-lama saya belajar mengendalikan situasi dengan fokus ke bakat saya, nyanyi,” ucap Bismo polos saat ditemui Kanalindonesia.com di Rumah Musik JCS, tempat ia berlatih.
Di ruang sederhana itulah Bismo ditempa. Di bawah bimbingan Teddy Yehezkiel dari JCS Musik, suaranya diasah, mentalnya dikuatkan. Setiap nada yang ia latih bukan sekadar teknik vokal, tetapi juga cara untuk menyalurkan rasa dan menyembuhkan luka.
Perjuangannya berbuah manis. Pada puncak peringatan Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo (Harjasda) ke-167, Bismo mendapat kesempatan tampil di hadapan pejabat dan masyarakat Sidoarjo. Ia membawakan lagu dari album perdananya yang berjudul “Pasti Bisa”.
Judul itu bukan tanpa makna.
Menurut Teddy Yehezkiel, lagu “Pasti Bisa” lahir dari kisah hidup Bismo sendiri. “Sebelum lagu ini kami garap, mama Bismo bercerita panjang tentang perjalanan hidupnya setelah bercerai. Dari situ kami terinspirasi. Lagu ini ingin memotivasi anak-anak seusia Bismo bahwa keadaan keluarga bukan akhir dari segalanya,” ujar Teddy.
“Bismo adalah putra daerah Sidoarjo yang ingin menyalurkan talentanya lewat industri musik. Meski ia anak broken home, dia tidak larut dalam kesedihan. Justru dia ingin membuktikan bahwa dirinya tetap bisa berprestasi,” tambahnya.
Di balik panggung besar Harjasda, ada perjalanan panjang yang tak terlihat publik: latihan berulang, air mata yang ditahan, serta doa seorang ibu yang tak pernah putus. Bismo tak sekadar menyanyikan lagu, ia sedang menyuarakan tekadnya kepada dunia—bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Album “Pasti Bisa” menjadi simbol keyakinan itu. Sebuah pernyataan dari bocah Banjarbendo yang ingin menunjukkan kepada keluarga besarnya, kepada Sidoarjo, bahkan kepada dunia, bahwa dirinya mampu berdiri tegak.
Di tengah segala keterbatasan, Bismo Daru memilih percaya.
Dan dari rumah kontrakan sederhana itu, sebuah mimpi besar sedang tumbuh pelan, tapi pasti. Karena bagi Bismo, seperti judul lagunya, ia yakin… pasti bisa.
Editor: Irwan

