GARUT, KANALINDONESIA.COM – Hamparan kebun jeruk di dataran tinggi Cikajang, Kabupaten Garut, tak lagi sekadar lahan produksi.
Di tangan Eptilu, kawasan itu menjelma menjadi ekosistem agribisnis modern, yang menggabungkan koperasi, agrowisata, hingga digital farming dalam satu sistem terpadu.
Didampingi Bank Indonesia, Eptilu mengelola lebih dari 75 hektar lahan hortikultura. Komoditasnya beragam, seperti jeruk lemon, cabai, tomat, hingga kentang. Seluruhnya dikelola melalui Koperasi Produsen Eptilu, yang memiliki 27 anggota tetap dan membina 125 petani muda.
Menurut Founder Eptilu, Rizal Fahreza, konsep yang mereka usung adalah F3 atau Fresh From Farm.
“Sistem ini mengintegrasikan produksi, pengolahan, dan distribusi dalam pola closed-loop. Sehingga kualitas dan pasokan dapat dikontrol dari hulu ke hilirnya. Dimana petani mendapat kepastian pasar. Sementara konsumen memperoleh produk segar dengan standar terjaga,” ujarnya, saat kunjungan media yang difasilitasi Bank Indonesia Jawa Timur, Jumat (13/2/2026).
Ia menambahkan, hasil panen tidak hanya masuk pasar induk. “Produk Eptilu juga dipasarkan ke jaringan ritel modern, segmen horeka (hotel–restoran–kafe), hingga reseller lintas daerah. Diversifikasi ini membuat serapan pasar lebih stabil, termasuk saat panen melimpah,” ungkapnya.
Tak berhenti di kebun produksi, Eptilu juga mengembangkan agrowisata edukatif. Dimana pengunjung dapat memetik jeruk langsung dari pohon, menikmati panorama pegunungan, sekaligus mencicipi olahan di Resto & Kafe Eptilu dengan konsep farm to table. Menu yang disajikan memanfaatkan hasil kebun sendiri.
“Nilai tambah, juga kami genjot lewat produk olahan, seperti es krim buah, keripik kentang, hingga abon dan saus cabai. Strategi ini membantu menjaga margin usaha. Sekaligus menekan risiko harga anjlok saat pasokan berlebih,” tuturnya.
Rizal juga menjelaskan, dari sisi budidaya, Eptilu mulai menerapkan digital farming. Pencatatan produksi, perencanaan tanam, dan distribusi, dilakukan berbasis data untuk menjaga efisiensi dan stabilitas pasokan.
“Program pendampingan Bank Indonesia mencakup penguatan kelembagaan koperasi, peningkatan kapasitas manajemen, hingga akses pasar. Model ini dinilai mampu mendorong petani naik kelas. Sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah,” pungkasnya. ANto

