PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: Matahari belum terlalu tinggi saat tim gabungan dari Komunitas Hijau Lestari, Relawan Peduli Bayangkaki, dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Ponorogo mulai membelah jalur terjal menuju Puncak Wonopuro, Dusun Sidowayah, Desa Sidoarjo, Kecamatan Jambon, Ponorogo.
Bagi warga kota, perjalanan ini mungkin sebuah petualangan. Namun bagi warga Wonopuro, medan ini adalah isolasi. Jalannya sempit, licin, dan menanjak ekstrem.
Mobil tak punya akses di sini. Tim terpaksa menggunakan sepeda motor, bahkan sebagian relawan harus berjalan kaki sejauh dua kilometer melewati jalan tanah yang becek dan sisa-sisa cor yang mulai mengelupas.
Tujuannya satu mengantarkan bantuan makanan pokok berupa beras, minyak goreng, mi instan, hingga roti untuk keluarga yang nyaris terlupakan oleh hiruk pikuk peradaban.

Setibanya di sebuah rumah reot milik seorang lansia bernama Mbah Simis, langkah tim seketika terhenti. Dada para relawan terasa sesak, tak sedikit yang spontan menyeka tetesan air mata saat menyaksikan realitas di balik dinding kayu yang lapuk itu.
Mbah Simis tinggal bersama tiga anak laki-lakinya. Pilunya, ketiga anaknya tersebut mengalami keterbelakangan mental.
Di rumah berlantai tanah tersebut bukan hanya karena lokasi yang jauh dari pusat pemerintahan desa, tapi karena ketiadaan harapan di atas piring makan mereka.
“Saat tim mencoba mencari bahan pangan di dapur, pemandangan menyedihkan tersaji. Tak ada kepulan asap nasi, tak ada butiran beras, bahkan tak ada segenggam garam pun di rak dapur. Yang ditemukan tim hanyalah beberapa tongkol jagung tua yang digantung dan jagung rebus sisa kemarin yang sudah mengeras. Di dalam panci, hanya ada rebusan daun tanpa bumbu apa pun,”ucap ketua Komunitas Hijau Lestari yang juga Wakabid organisasi PWI Ponorogo, Endang Widayati.

Kondisi ini memukul batin Endang Widayati. Ia yang terbiasa bergelut dengan berita dan aksi sosial, kali ini mengaku tak kuasa membendung emosinya melihat kemiskinan ekstrem di puncak bukit tersebut.
“Kami benar-benar tidak sanggup menahan kesedihan ini. Saat kami cek ke dapur, tidak ada beras, tidak ada garam, sama sekali tidak ada bahan lauk. Mereka bertahan hidup hanya dengan jagung tua yang direbus dan daun-daunan tanpa rasa. Ini sangat menyayat hati,” ungkap Endang Widayati dengan suara bergetar.

Wonopuro memang berdiri di titik tertinggi Dusun Sidowayah. Lokasinya yang terpencil membuat akses bantuan jarang menyentuh kawasan ini secara rutin. Rumah-rumah penduduk berdiri berjauhan, dipisahkan oleh tebing dan rimbunnya hutan. Satu-satunya akses hanyalah jalan setapak yang jika hujan turun akan berubah menjadi jalur maut yang licin.
Kehadiran tim gabungan hari itu setidaknya memberikan sedikit napas bagi Mbah Simis dan ketiga anaknya. Beras dan bahan pokok yang diserahkan diharapkan mampu menyambung hidup mereka untuk beberapa waktu ke depan.
Namun, kisah Mbah Simis adalah pengingat tajam. Di balik indahnya pemandangan Puncak Wonopuro, masih ada keluarga yang harus berjuang melawan rasa lapar dengan hanya mengandalkan jagung tua dan rebusan daun tanpa garam. (Tim)

