Jika UEA (bersama Arab Saudi) memutuskan untuk menjual minyak dalam mata uang Yuan atau Euro sebagai balasan atas tekanan AS, dominasi Dollar sebagai mata uang cadangan dunia akan berakhir secara permanen.
Jika AS melakukan blokade atau serangan terhadap UEA, mereka secara tidak langsung memutus urat nadi perdagangan dunia:
Jebel Ali Port: Ini adalah pelabuhan buatan terbesar di dunia dan pintu masuk utama bagi barang-barang dari Asia menuju Eropa dan Afrika. Gangguan di sini akan menyebabkan kemacetan suplai global yang jauh lebih parah daripada krisis terusan Suez.
Konektivitas Udara: Dubai (Emirates) dan Abu Dhabi (Etihad) adalah hub penerbangan internasional. Penutupan ruang udara UEA akan menghentikan mobilitas jutaan manusia dan kargo udara setiap harinya, melumpuhkan ekonomi jasa global.
AS akan menghadapi dilema operasional yang fatal jika menargetkan UEA. Saat ini, AS menempatkan ribuan personel dan jet tempur canggih (termasuk F-35 dan drone) di pangkalan Al Dhafra, UEA. Menargetkan UEA berarti AS harus mengusir dirinya sendiri dari pangkalan paling strategis untuk memantau Iran dan Teluk Oman.
UEA adalah mitra intelijen utama AS dalam pemberantasan terorisme di kawasan. Kehilangan mitra ini akan menciptakan “lubang hitam” informasi bagi Pentagon.
Jika AS menekan UEA, ini akan menjadi peluang emas bagi rival AS yaitu China kemungkinan besar akan segera masuk sebagai “penjamin keamanan” baru bagi UEA. UEA adalah mitra penting dalam inisiatif Belt and Road. China bisa menawarkan sistem pertahanan udara (seperti HQ-9) untuk menggantikan sistem Patriot AS yang ditarik.
Hubungan personal antara Presiden MBZ dan Putin cukup erat. Rusia bisa memanfaatkan celah ini untuk memperkuat pengaruh OPEC+ dan memastikan harga minyak tetap tinggi demi mendanai kepentingan mereka.
Sementara itu kita ketahui, Indonesia sangat bergantung pada komitmen investasi UEA (mencapai puluhan miliar dolar). Jika UEA dalam kondisi konflik atau asetnya dibekukan AS, proyek strategis nasional Indonesia terancam mangkrak.
UEA adalah salah satu sumber impor minyak mentah utama Indonesia. Gangguan di sini berarti antrean BBM di SPBU dalam negeri karena cadangan nasional kita yang terbatas.
Berbeda dengan Iran yang sudah terbiasa dengan sanksi, UEA adalah bagian integral dari sistem kapitalisme global. Menargetkan UEA berarti AS menyerang sistem saraf ekonominya sendiri.
Skenario ini hanya mungkin terjadi dalam kondisi Perang Dingin Baru di mana UEA dipaksa memilih antara AS atau China, dan UEA memilih China secara total. Ini akan menandai berakhirnya hegemoni AS di Timur Tengah secara absolut.
Bagi Indonesia, konflik ini bukan lagi sekadar berita luar negeri. Kondisi ratusan WNI di Qom dan Teheran berada dalam risiko tinggi. Meskipun jalur udara telah menjadi Kill Zone, rencana evakuasi melalui jalur darat menuju Azerbaijan merupakan langkah mitigasi yang paling logis dan aman.
Secara makro, Indonesia harus bersiap menghadapi hantaman harga BBM akibat penutupan Selat Hormuz. Pelajaran militer yang bisa dipetik sangat jelas, secanggih apa pun teknologi stealth milik Barat, mereka tetap rentan terhadap serangan asimetris dan blokade ekonomi yang terintegrasi. Kita kini telah melewati point of no return diplomasi telah resmi digantikan oleh moncong senjata.

