Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL BANGKALAN

Tradisi “Nyareh Malam” di Bangkalan

Tradisi “Nyareh Malam” di Bangkalan

BANGKALAN, KANALINDONESIA.COM : Ada satu kebiasaan yang kerap dilakoni dan diwarisi secara turun – temurun oleh sebagian besar masyarakat di Bangkalan – Jatim saat bulan Ramadhan tiba, yakni “Nyareh Malam”. Kalau orang Jawa Barat dikenal dengan istilah “Ngabuburit”.

Menurut cerita salah satu sesepuh di kota Bangkalan, Ismail Hasan (74). Saat diajak bincang – bincang awak media KI.COM didepan Taman Paseban Bangkalan. Mengatakan bahwa kalau zaman dulu, sekitar tahun 1960-an, orang Nyareh Malem atau menunggu saat berbuka puasa. Kebanyakan jalan kaki bersama teman – teman sebaya, keliling kota Bangkalan, itu senangnya sudah luar biasa.

“Tahun 60-an, Nyareh Maalam pakai sepeda pancal, sudah wah mas, karena dianggap barang mewah, ” kenang Ismail, Minggu, (1/3/2026).

Lebih lanjut dituturkan bahwa sekitar tahun 1970-an, Nyareh Malam pelan tapi pasti mulai berubah. Sebab banyak sudah masyarakat yang menggunakan sepeda pancal diiringi dentuman suara mercon.

“Puncaknya di tahun 2000-an hingga sekarang. Jarang ditemui masyarakat yang Nyareh Malam jalan kaki maupun naik sepeda pancal melintas dan mengelilingi aluan – alun Bangkalan.

“Sekarang ini rata – rata orang “Nyareh Malam” minimal menggunakan sepeda motor, bahkan banyak juga yang pakai mobil, ” tutur Ismail.

Tak kalah seru adalah cerita Iwan (mewakili generasi kekinian).Menurut dia, sangat senang mendengar cerita nenek dan kakeknya saat ngelakoni “Nyareh Mhalam” dizaman mereka (1950). Tidak seperti sekarang, kalau mau beli makanan – minuman untuk berbuka puasa. Tinggal pilih, mau apa? yang penting kocek tebal, berbuka puasa dengan menu mahal, nyathoren, begitu cerita kakeknya. Cuma kadang anak – anak sekarang ini sering lupa, berbuka puasa seperti orang kesurupan, semua hidangan mau dimakan semuanya.

“Aromanya seperti orang mau balas dendam setelah seharian menahan lapar dan dahaga, ” ujarnya sambil tersenyum.

“Kata kakek, menunggu bsok lebaran, malamnya tidak bisa tidur. Apalagi hiburanya cuma radio, baju dan sarung baru untuk solat Idul Fitri dipandang terus hingga mata terpenjam, ” pungkas Iwan.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita