SURABAYA KANALINDONESIA.COM – Ketua Umum DPP PPP Muhammad Mardiono meminta DPW PPP Jawa Timur untuk melakukan transformasi politik agar PPP kembali bangkit dan meraup dukungan suara pada pemilu 2029 mendatang lebih tinggi dari sekarang.
Membuka Muswil ke 10 DPW PPP Jatim, utusan khusus Presiden Prabowo ini menegaskan jika PPP Jatim ingin kembali meraih kejayaan, maka transformasi politik harus dilakukan.
“PPP harus berubah dari pola yang mengedepankan kondusifitas sosial ketimbang kondusifitas elektoral. Artinya orang orang yang ada di PPP terutama pengurus harus yang mampu mendulang suara untuk kebesaran partai,” kata Mardiono ditemui usai membuka Muswil XI DPW PPP di Novotel Samator Hotel Surabaya, Rabu (11/3/2026).
Mardiono mengingatkan bahwa kondusifitas elektoral itu ada di TPS bukan di kantor DPW
“Artimya bahwa mereka jangan hanya tinggal kerja di (kantor) DPW atau DPC , sebab suara itu ada di TPS. Partai partai sebelah sudah meninggalkan komunitas sosial, lebih pada elektoral. komunitas sosial menjadi alat untuk meraih elektoral,” tambahhya
Kemudian Transformasi politik lainnya adalah, kedepan PPP harus bisa merebut suara gen z yang memiliki besaran suara hingga 60- 70 % suara pemilih.
“Kita akan menghadapi pemilu yang pemilihnya 60 sampai 70 persen adalah kaum gen z, maka ya harus merubah pola perjuangan politik dari yang lama ke yang baru ,” kata Mardiono.
Khusus untuk Ketua dan pengurus PPP Jawa Timur yang baru, Mardiono berharap akan tercipta kepengurusan yang baru dan solid.
“Harapan saya adalah kepengurusan baru yang solid , kesolidan dimulai dari pusat, wilayah, cabang, sampai ranting. Harus sejalan seirima. Kalau tidak ya akan seperti saat ini,” harapnya
Jawa Timur kata Mardiono adalah lumbung suara PPP, muswil ini harus menjadi pemberhentian terakhir kecelakaan politik di PPP.
“Karenanya Kita ingin stop kemerosotan ini. Muswil ke XI harus jadi miqot bangkit kembali mengenang dan meraih kembali kejayaan masa lalu,” tegasnya.
Terkait kegagalan PPP di Pemilu 2024, Mardiono mengatakan bahwa kecelakaan politik di PPP yang terjadi sebenarnya bukan kejatuhan yang besar, sebab di kabupaten kota masih bisa raih 8.600.000 suara , walau harus diakui Provinsi turun menjadi 6 juta lebih, dan di pusat juga berkurang sehingga tidak memenuhi parlementary thershold. Namun in memang menjadi catatan untuk dievaluasi.
“Tapi kan kurangnya hanya 130 000. Bagi kita Ini yang perlu di evaluasi tanpa perlu menyaalhkan siapapun,”

Sementara itu Plt Ketua PPP Jatim KH Muchid Efendi mengatakan saat ini kondisi Jawa Timur sedang tidak baik baik saja. Ini didasari oleh kegagalan pada Pemilu 2024 lalu suara PPP di Jawa Timur anjlok.
“PPP sedang tidak baik baik saja, dari 125 kursi kabupaten kota, hilang 26 kursi, sedang tingkat. Provinsi hilang 1 kursi,” ungkap Kyai Muchid Efendi saat menyampaikan sambutannya.
Lebih jauh Kyai Muchid menjelaskan bahwa kejatuhan luar biasa ini juga tidak lepas dari kondisi organisasi yang labil dan memiliki banyak masalah.

