SURABAYA KANALINDONESIA.COM – Ditemukannya satu pasien yang terkonfirmasi positif campak di Tulungagung menjadi alarm keras bagi Pemprov Jatim untuk meningkatkan perhatian pada kasus suspect campak di Jawa Timur
Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas mengingatkan agar Pemprov layak khawatir dan serius dengan kondisi ini, apalagi
data dari dinas kesehatan setempat menunjukkan adanya peningkatan kasus dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kalau kita lihat, bukan hanya di Tulungagung, di beberapa daerah juga sempat terjadi kejadian luar biasa (KLB). Ini harus menjadi atensi serius bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur, khususnya Dinas Kesehatan, agar kasus seperti ini tidak semakin banyak muncul di berbagai daerah,” kata Puguh, Jum’at (13/3/2026).
Agar efektif Puguh menyarankan
Pemprov segera melakukan penguatan koordinasi antara Dinas Kesehatan Provinsi dengan dinas kesehatan di seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur. Selain itu, perlu dilakukan pemetaan wilayah berdasarkan tingkat risiko penyebaran campak, mulai dari zona merah, kuning, hingga hijau.
“Pemetaan ini penting untuk mengetahui daerah dengan potensi penularan tinggi, sedang, maupun rendah. Salah satu indikatornya bisa dilihat dari capaian angka imunisasi di wilayah tersebut,” ujarnya.
Menurut Puguh Pemerintah baik provinsi maupun Kabupaten Kota juga segera melakukan pendekatan jemput bola melalui berbagai fasilitas yang sudah tersedia di masyarakat dan menekankan pentingnya percepatan imunisasi campak-rubella secara masif. .
“Imunisasi harus dimasifkan melalui sekolah-sekolah, posyandu, serta fasilitas kesehatan. Infrastruktur kesehatan yang sudah ada harus dimanfaatkan secara maksimal agar cakupan imunisasi bisa meningkat,” jelasnya.
Secara tehnis Politisi PKS ini mendesak agar pemerintah mendorong penguatan pengawasan dan deteksi dini kasus campak melalui sistem surveilans di fasilitas kesehatan. Rumah sakit, puskesmas, hingga fasilitas kesehatan lainnya diminta aktif memantau gejala awal seperti demam, ruam, batuk pilek, hingga mata merah.
Menurut Puguh, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur perlu mengeluarkan surat edaran agar seluruh fasilitas kesehatan melakukan pemantauan tersebut secara sistematis.
“Dengan adanya surveilans yang aktif, Dinas Kesehatan Provinsi bisa memiliki database yang kuat sehingga dapat melakukan respons cepat melalui tim penanganan ketika ditemukan kasus,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat mengenai imunisasi, khususnya kepada para orang tua agar tidak menunda pemberian vaksin kepada anak. Edukasi ini bisa melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari kader kesehatan desa hingga organisasi masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat.
“Di tingkat desa sudah ada kader kesehatan, puskesmas pembantu, hingga puskesmas. Semua itu bisa dilibatkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya imunisasi,” ujarnya.
Puguh menambahkan, menjelang periode mudik Lebaran, mobilitas masyarakat diperkirakan akan meningkat sehingga berpotensi mempercepat penularan penyakit menular, termasuk campak.
Karena itu, ia mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh agar tidak mudah terpapar penyakit.
“Momentum mudik ini harus menjadi perhatian bersama karena mobilitas dan interaksi masyarakat sangat tinggi. Ini berpotensi meningkatkan penularan penyakit, termasuk campak,” katanya.
Ia berharap Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur segera mengambil langkah strategis dan mengoordinasikan upaya penanganan dengan seluruh pemerintah kabupaten/kota agar penyebaran campak dapat segera dikendalikan. Nang

