SIDOARJO, KANALINDONESIA.COM – Sikap Bupati Sidoarjo Subandi yang menegur Sekretaris Daerah (Sekda) Fenny Apridawati terkait acara buka bersama (bukber) bergaya “Bollywood” di Gedung Graha Unesa menuai sorotan tajam. Teguran yang disampaikan secara lisan itu dinilai publik sebagai langkah setengah hati bahkan terkesan “sandiwara”.
Teguran tersebut disampaikan Subandi saat menghadiri kegiatan kunjungan kerja Listyo Sigit Prabowo di Terminal Purabaya, Minggu (15/6).
Acara bukber yang viral di berbagai portal media online dan media sosial itu sebelumnya menjadi perbincangan publik karena dinilai terlalu glamor dan tidak sensitif terhadap kondisi masyarakat.
Ironisnya, dalam video pendek yang beredar luas di TikTok, Bupati Subandi justru terlihat hadir dalam kegiatan tersebut. Hal ini memicu kritik karena teguran kepada Sekda dianggap tidak konsisten dengan fakta di lapangan.
Ketua Umum Java Corruption Watch, Sigit, menilai teguran lisan yang disampaikan Bupati tidak menunjukkan ketegasan seorang kepala daerah.
“Kalau teguran hanya secara lisan itu terkesan sandiwara. Lah wong Bupati sendiri ikut dalam momen bukber glamour itu,” tegas Sigit.
Menurutnya, jika memang terdapat pelanggaran etika atau kebijakan, seharusnya Bupati memberikan teguran resmi secara tertulis agar memiliki bobot pembinaan yang jelas.
Sigit juga memastikan bahwa dalam acara bukber yang disebut-sebut sebagai “bukber ala Bollywood” versi Pemerintah Kabupaten Sidoarjo tersebut, Wakil Bupati Mimik Idayana tidak hadir.
“Saya pastikan dalam kegiatan bukber ala Bollywood itu Bu Mimik tidak ada,” tegasnya.
Sementara itu, dikutip dari Kompas.com, Bupati Subandi memberikan klarifikasi bahwa kehadiran Sekda dalam acara tersebut bertujuan untuk meramaikan rumah makan di area Unesa yang biasanya digunakan untuk acara pernikahan dan kegiatan lainnya.
“Tujuannya Bu Sekda hadir agar rumah makan yang ada di Unesa yang biasanya dipakai untuk event pernikahan dan lain-lain bisa ramai. Hari itu kan tidak ada kegiatan, makanya dipakai untuk buka puasa bersama. Harapannya hanya itu saja,” jelas Subandi.
Meski demikian, Subandi tetap menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat apabila kegiatan tersebut menimbulkan ketidaknyamanan.
Ia menegaskan bahwa teguran lisan kepada Sekda tetap diberikan sebagai bentuk pembinaan agar kejadian serupa tidak terulang.
Namun di mata publik, sikap tersebut justru dinilai mencla-mencle. Di satu sisi Bupati terlihat hadir dalam acara yang sama, namun di sisi lain justru menegur bawahannya setelah kegiatan tersebut menuai kritik dan viral di media sosial.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik mengenai konsistensi sikap dan tanggung jawab moral pimpinan daerah dalam menyikapi polemik yang terjadi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. (*)

