Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL TUBAN

Limbah Cucian Kuarsa di Jenu Tuban Ganggu Nelayan dan Petani di Hilir

Limbah Cucian Kuarsa di Jenu Tuban Ganggu Nelayan dan Petani di Hilir

TUBAN, KANALINDONESIA.COM: Aktivitas pencucian pasir kuarsa di wilayah Desa Jenggolo, Kecamatan Jenu, berdampak pada perubahan kondisi sungai hingga pesisir. Nelayan dan petani di kawasan hilir, khususnya di Beji dan sekitarnya, mulai merasakan dampaknya dalam beberapa tahun terakhir.

Salah seorang nelayan, Langit (bukan nama sebenarnya), setiap hari melaut sejak subuh untuk mencari nafkah. Hasil tangkapannya beragam, mulai dari rajungan hingga sesekali lobster jika beruntung. Ia mengaku sudah menjadi nelayan sejak kelas 6 SD dan terbiasa melaut di perairan Beji, Kecamatan Jenu.

Sejak kecil, ia bersandar di aliran sungai yang menghubungkan wilayah Jenggolo hingga bermuara di pesisir Beji. Dahulu, menurutnya, sungai tersebut jernih dan cukup luas untuk menjadi tempat bersandar para nelayan.

“Dulunya ini sudah menjadi tempat kapal sandar, ndak tau kapan, tapi sejak zaman belanda sudah ada yang sandar disini,” jelasnya ditemui sembari menbenahi jaring Rabu (29/4/2026)

Kondisi itu kini berubah. Berdasarkan pantauan di lokasi pada Rabu (29/4/2026), aliran sungai tampak keruh dan berwarna cokelat. Air mengalir dari arah hulu dengan membawa lumpur yang diduga berasal dari limbah pencucian pasir kuarsa.

“Akibatnya ya sekarang ini kita desak desakan kalau sandar, airnya keruh, meskipun di keruk tapi kan sungainya jadi berlumpur,” tambahnya.

Meski kondisi air berubah, sejumlah nelayan masih menggunakan lokasi tersebut untuk bersandar karena sudah menjadi titik tambat sejak lama.

Diketahui, aktivitas pencucian pasir kuarsa berada di Desa Jenggolo. Limbahnya mengalir mengikuti aliran sungai hingga ke pesisir Beji.

Dampak tidak hanya dirasakan nelayan. Petani di wilayah hilir juga mengeluhkan kondisi serupa. Aliran limbah menyebabkan pendangkalan sungai, sehingga air tidak mengalir lancar.

Pantauan di lokasi pada Kamis (23/4/2026) menunjukkan air di avur maupun sungai utama cenderung menggenang. Kondisi ini menyebabkan air meluber ke area persawahan, terutama saat musim hujan, hingga merendam lahan milik warga.

Seorang petani dari Desa Sekardadi, Seno (bukan nama sebenarnya), mengeluhkan kondisi tersebut. Ia menyebut dampak pendangkalan sudah berlangsung sekitar enam tahun.

“Itu karena Aktivitas cucian kuarsa, Mas, yang membuat sungai dibagian hilir menjadi dangkal. Dulu juga sudah sempat dibangun dam disekitar sini tetapi hasilnya tetap sama,” jelasnya di lokasi.

Akibat sawah yang terendam, ia harus mencari penghasilan tambahan sebagai sopir dan beternak. Sementara itu, petani lain yang bergantung penuh pada hasil panen mengalami penurunan produksi.

Dari yang semula bisa panen dua hingga tiga kali dalam setahun, kini sebagian petani hanya mampu panen sekali. Bahkan, dalam kondisi tertentu, ada yang tidak bisa menanam sama sekali.

“Bisa bikin bibit padi aja alhamdulillah, mas,” katanya kepada wartawan.

Sejumlah petani telah menyampaikan keluhan, namun menurutnya belum ada solusi konkret dari pemerintah desa. Pendangkalan sungai pun masih terus terjadi.

“Pihak desa juga seakan-akan tutup mata, Mas, dalam mengatasi permasalahan ini. Kasihan yang menggantungkan hidupnya hanya dari bertani,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Camat Jenu, Siswanto, mengaku belum menerima laporan resmi terkait persoalan itu. Meski baru menjabat kurang dari satu bulan, ia memastikan akan menindaklanjuti informasi yang ada.

“Saat ini belum ada laporan resmi, cuma bukan berarti kami abai. Kami tetap akan pengecekan di lapangan,” jelasnya saat ditemui di kantornya Rabu (29/4/2026)

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita