Lebih dari itu, Bank Jatim juga memiliki peran penting sebagai penghubung antara kekuatan fiskal daerah dengan sektor riil. Artinya, bagaimana program-program pemerintah dapat diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi yang produktif melalui dukungan pembiayaan yang tepat sasaran. Ke depan, peran strategis Bank Jatim,perlu terus diperkuat dengan digital mindset, bukan sekadar digitalisasi layanan, tetapi transformasi menyeluruh dalam cara berpikir, cara bekerja, dan cara mengambil keputusan yang lebih adaptif terhadap dinamika zaman.
“Bank Jatim memiliki posisi yang sangat strategis, tidak hanya dalam konteks perbankan daerah, tetapi juga dalam mendukung arsitektur ekonomi nasional. Hal ini tercermin dari jumlah anggota KUB. Bank Jatim menaungi 5 anggota Bank KUB diantaranya NTB Syariah, NTT, Sulawesi Tenggara, Lampung dan Banten. Ini merupakan yang terbanyak diantara BPD lainnya yang menjadi induk KUB,” sebutnya.
Direktur Utama Bank Jatim Winardi Legowo juga menjelaskan, menutup tahun 2025 di tengah dinamisnya kondisi ekonomi di berbagai level, manajemen mengimplementasikan beberapa strategi untuk menjaga performa bisnis dan keuangan Bank Jatim. Antara lain keseimbangan dalam pengelolaan Dana Pihak Ketiga dengan memperbesar rasio dana murah dan juga penerbitan obligasi untuk mendukung portofolio stable fund Bank, penyaluran pinjaman yang lebih selektif pada sektor yang prospektif, disiplin pengaturan untuk pos pendapatan dan beban melalui efisiensi dan peningkatan transaksi digital untuk meningkatkan pendapatan non bunga, serta pengendalian kualitas aset agar sesuai dengan risk appetite.
”Kemudian untuk mendukung visi menjadi BPD Nomor 1 Di Indonesia, manajemen kembali melanjutkan journey transformasi melalui 5 pilar utama yaitu aspek tata kelola & manajemen risiko, optimalisasi bisnis berbasis ekosistem, peningkatan kompetensi manpower sebagai asset utama, kekuatan teknologi informasi dan digitalisasi proses bisnis, dan optimalisasi sinergi bisnis untuk KUB,” terangnya.
Winardi juga menegaskan, perseroan terus berupaya untuk dapat menjadi BUMD yang terbaik, profesional, dan mampu menjadi salah satu motor penggerak ekonomi terutama di wilayah regional Jawa Timur, baik melalui aspek operasional bisnis sehari-hari maupun melalui pendistribusian atas perolehan laba Perseroan dalam bentuk deviden. Atas beberapa hal yang telah Manajemen terapkan dengan didukung oleh produktifitas team yang solid termasuk melalui kolaborasi konsolidasi bersama 4 Bank Pembangunan Daerah yang tergabung dalam KUB, kinerja keuangan konsolidasi perseroan tahun 2025 cukup positif. Aset Bank Jatim tercatat berada di angka Rp 168,85 triliun atau tumbuh 42,93% (YoY). Kemudian laba bersihnya sebesar Rp 1,61 Triliun, naik 24,80% (YoY). Sedangkan untuk kinerja bank only, kinerja Bank Jatim tahun buku 2025 antara lain pengelolaan aset sebesar Rp105,8 Triliun, tumbuh sebesar 3,70% (YoY) dan sukses mencetak laba bersih tertinggi dari seluruh BPD di Indonesia sebesar Rp1,546 triliun atau tumbuh 20,65% dari tahun sebelumnya.
Selain itu, lanjut Winardi, Bank Jatim juga menunjukkan performa solid dengan mencatatkan pertumbuhan kinerja yang positif sepanjang kuartal I 2026. Di tengah tantangan kondisi ekonomi global, Bank Jatim berhasil membukukan laba bersih secara konsolidasi sebesar Rp 661 miliar pada kuartal I/2026. Capaian itu tumbuh hingga 90,41% secara tahunan (YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp 347 miliar. Perolehan laba bersih Bank Jatim pada periode ini salah satunya didorong oleh pendapatan bunga bersih yang tumbuh 39,61% YoY menjadi Rp2,35 triliun secara konsolidasi.

