Ia menyebut bahwa pelaku kini diduga menghilang setelah sempat berjanji menyelesaikan persoalan dalam waktu dua minggu. Rumah pelaku di Driyorejo, Gresik disebut sudah kosong dan komunikasi terputus.
Namun para korban masih menemukan jejak keluarga pelaku di kawasan Sememi dan Benowo Surabaya. Beberapa transfer uang juga disebut mengalir ke rekening keluarga pelaku.
“Masih ada bukti transferan uang itu yang masuk ke rekening kakaknya,” sebutnya.
Sementara itu, Sekretaris For Justice, Yudistira Eka Putra saat mendampingi korban mengatakan mayoritas korban merupakan warga Surabaya. Sisanya berasal dari Gresik, Sidoarjo, dan Mojokerto.
“Korban berharap ada atensi dari pemerintah kota karena lebih dari 70 persen korbannya warga Surabaya. Kalau sampai tenggat 17 Mei tidak ada iktikad baik dari pelaku, kami akan melaporkan kasus ini ke kepolisian,” kata Yudistira.
Ia menambahkan, pelaku juga sempat mengakui sendiri di grup percakapan bahwa arisan tersebut memang fiktif dan hanya memutar uang anggota hingga akhirnya kolaps.
“Dari pelaku menawarkan pembelian arisan dengan dijanjikan keuntungan antara 20 persen sampai 50 persen dengan rentan waktu yang cukup singkat,” ucapnya.
Ia berharap, melalui pelaporan para korban ke Rumah Aspirasi Wakil Walikota Surabaya, nantinya dapat menjadi jalan untuk mendapatkan kembali keadilan.
“Harapannya kita nanti dengan tenggat waktu sampai 17 Mei, setelah itu langkah selanjutnya kalau tidak ada itikad baik, kita akan melanjutkan ke laporan polisi,” pungkasnya. (SNT)

