TUBAN, KANALINDONESIA.COM: Pengamen dan badut jalanan masih menjadi pemandangan yang mudah ditemui di sejumlah persimpangan Kabupaten Tuban. Di balik fenomena yang terus berulang itu, akademisi menilai ada persoalan yang lebih kompleks daripada sekadar mencari nafkah, yakni lingkungan keluarga dan mentalitas yang terbentuk sejak lama.
Di balik maraknya keberadaan mereka di sejumlah titik lampu merah dan jalan protokol, terdapat persoalan lingkungan hingga pola pembentukan mental yang ikut memengaruhi seseorang memilih hidup di jalanan.
Pandangan itu disampaikan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas PGRI Ronggolawe Tuban, Satya Irawatiningrum. Menurutnya, fenomena pengamen dan pengemis jalanan merupakan persoalan sosial yang cukup kompleks karena dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi ekonomi hingga lingkungan keluarga.
“Tidak hanya lapangan pekerjaan susah, mental orang kita yang sulit, mentalnya dimanjakan dan dibuat lemah,” ujarnya.
Menurut dosen yang kerap disapa Ira itu, sulitnya lapangan pekerjaan memang menjadi salah satu penyebab seseorang turun ke jalan. Namun, kondisi tersebut tidak bisa dijadikan satu-satunya alasan. Ia menilai ada pola pikir dan kebiasaan hidup tertentu yang ikut terbentuk dari lingkungan terdekat, terutama keluarga.
“Segala sesuatunya itu dari keluarga. Mereka itu harus dilihat keluarganya seperti apa. Segala hal yang membentuk kepribadian itu dari keluarga, membentuk mental juga dari keluarga,” katanya.
Ia menilai, pola kehidupan yang terus bergantung pada penghasilan instan di jalan bisa membentuk kebiasaan yang sulit diubah apabila tidak disertai dorongan dari lingkungan sekitar. Karena itu, penanganan terhadap pengamen dan pengemis tidak cukup hanya mengandalkan razia maupun pembinaan sementara.
Menurutnya, penertiban tetap perlu dilakukan untuk menjaga ketertiban ruang publik. Namun di sisi lain, pembentukan mental dan dukungan keluarga juga menjadi bagian penting yang tidak bisa diabaikan.
“Siapa yang mempengaruhi? Keluarga, mereka dilihat keluarganya seperti apa,” lanjutnya.
Fenomena pengamen dan pengemis di Tuban sendiri sebelumnya menjadi perhatian pemerintah daerah. Meski razia dan rehabilitasi telah berulang kali dilakukan, sebagian dari mereka masih kembali ke jalanan. Pemerintah menyebut faktor ekonomi dan penghasilan harian yang cukup besar menjadi alasan utama mereka bertahan.
Bagi Dekan FISIP UNIROW itu, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pengamen jalanan tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan sesaat.
Menurutnya, diperlukan upaya yang lebih panjang, tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar.
Di tengah upaya pemerintah menata wajah kota agar lebih tertib, fenomena pengamen dan pengemis jalanan pun memperlihatkan persoalan sosial yang lebih dalam dari sekadar keberadaan mereka di lampu merah. (Najib)

