PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: Suasana di sebuah rumah di Jalan Cindewilis, Kelurahan Kertosari, Kecamatan Babadan, Ponorogo, Jawa Timur mendadak diselimuti keheningan yang menyayat hati. Sejak kabar buruk itu berembus pada Rabu pekan ini, tak ada lagi tawa yang terdengar. Yang tersisa hanyalah kecemasan yang membubung tinggi dan untaian doa yang tak putus-putusnya dipanjatkan.
Kepada kanalindonesia.com saat ditemui di teras rumahnya, Dyah Puspasari (48) hanya bisa terpaku. Sebagai adik bungsu dari Herman Budianto, perasaannya berkecamuk hebat. Kakak tercintanya, yang berangkat membawa misi mulia peduli kemanusiaan, kini justru bernasib pilu. Herman Budianto yang tergabung dalam pelayaran kemanusiaan Global Sumud Flotilla di bawah koordinasi Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), dilaporkan telah disandera oleh Israel Occupation Forces (IOF) di perairan internasional pada Selasa(19/05/ 2026).
Saat ditemui, Dyah Puspasari tak kuasa menyembunyikan kesedihan yang mendalam. Matanya tampak berkaca-kaca, menahan bendungan air mata yang siap tumpah kapan saja. Setiap kali mengingat nasib sang kakak di tanah seberang, dadanya terasa sesak. Jiwanya limbung, dibayangi ketidakpastian yang mencekam.
“Malam Rabu itu kita ya sudah nggak bisa mikir, nggak bisa apa-apa. Ya hanya cuma bisa diam dan berdoa. Bingung, ndak tahu seperti apa… Kita bingung,” tutur Dyah dengan suara yang bergetar menahan tangis.
Kekhawatiran Dyah kian memuncak setelah ia menyaksikan potongan video yang beredar luas di jagat maya, menampilkan bagaimana para tawanan diperlakukan. Bayangan tentang sang kakak yang harus menderita di tangan penyandera terus menghantui hari-harinya.
“Kita melihat video tadi itu ada yang disiksa, mulai disiksa-siksa itu… kita sudah ndak bisa mikir. Blas ndak bisa mikir itu seperti apa. Bayangan kita itu habis… dikasih makan apa ndak? Kalau kemarin saya mikirnya, ‘Nanti di sana dikasih makan ndak?’ Tapi kalau disiksa itu, tampaknya kita ndak bisa mikir,” ucapnya lirih, menggambarkan hancurnya perasaan seorang adik.
Dalam segala keterbatasan dan rasa ketidakpastian yang mendera, Dyah dan keluarga besarnya di Ponorogo kini hanya bisa menggantungkan harapan pada keajaiban doa dan ketegasan sikap dari pemerintah Indonesia. Baginya, jalur diplomasi negara adalah satu-satunya juru selamat yang mampu membawa kakaknya pulang dengan selamat.
“Harapan kita ya doa dari teman-teman semua, dan juga dari pemerintah itu segera mau bertindak menyelamatkan kakak saya dan teman-temannya. Ya itu aja. Karena tanpa pemerintah, jelas ndak mungkin bisa menembus untuk menyelamatkan para tawanan. Inggih, secepatnya…” rintih Dyah penuh harap.
Kini, di tengah ketidakpastian yang terus bergulir, Dyah memilih untuk tidak lagi memantau perkembangan visual yang mengerikan di media demi menjaga hatinya tetap kuat. Di setiap embusan napasnya, ia hanya berharap ada mukjizat yang membawa Herman Budianto kembali ke pelukan keluarga dalam kondisi sehat walafiat.

