Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL PAMEKASAN

Soroti Layanan Haji 2026, Taufadi Ketua DPC PDI P Pamekasan Kritik Minimnya Pendampingan Lansia di Masjidil Haram.

Soroti Layanan Haji 2026, Taufadi Ketua DPC PDI P Pamekasan Kritik Minimnya Pendampingan Lansia di Masjidil Haram.

PAMEKASAN, KANALINDONESIA.COM: Ketua DPC PDI Perjuangan Pamekasan, Taufadi, membagikan catatan kritis mengenai perjalanan ibadah haji 1447 H / 2026 M. Catatan yang dipublikasikan melalui media Ansari Madura Raya tersebut merangkum seluruh fase perjalanan jamaah Kloter SUB-74. Mulai dari harunya pemberangkatan di Pamekasan, hingga realita pelaksanaan umrah wajib di Makkah.

Meski mengapresiasi kekompakan jamaah, Taufadi secara khusus menyoroti implementasi tagline Haji 2026, “Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan,” yang dinilainya belum optimal di lapangan.

Pada bagian awal catatannya, Taufadi mengulas prosesi pemberangkatan dari Asrama Haji Sukolilo Surabaya, penerbangan via Bandara Juanda, hingga penempatan jamaah di hotel kawasan Makkah yang berjalan relatif lancar. Namun, situasi berbeda ia temukan saat jamaah melaksanakan umrah wajib di Masjidil Haram.

Taufadi menyayangkan minimnya kehadiran Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di sektor krusial, padahal Kloter SUB-74 membawa puluhan jamaah berkategori risiko tinggi (risti), penyandang disabilitas, dan pengguna kursi roda.

“PPIH dari Sektor 4 tidak terasa perannya sama sekali. Mereka yang seharusnya hadir saat kami membutuhkannya justru tidak ada sampai selesainya pelaksanaan umrah,” ungkap Taufadi.

Dampak dari minimnya pengawalan tersebut, membuat petugas kloter dan pembimbing Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) harus bekerja ekstra keras. Pasalnya, cuaca panas ekstrem dan padatnya Masjidil Haram membuat fisik jamaah risti terkuras habis.

Taufadi membeberkan sejumlah momen krusial yang terjadi di lapangan. Sepertihalnya, Jemaah lansia banyak yang kelelahan dan terpaksa harus dipapah oleh sesama anggota keluarga karena keterbatasan bantuan.

Sementara untuk jemaah perempuan, banyak terjadi insiden yang mengalami kram hebat, bahkan ada satu jamaah yang sempat pingsan saat menjalani prosesi Sa’i.

“Perjalanan haji bukan hanya perjalanan ibadah, tetapi juga ujian kesabaran, kedisiplinan, dan kekompakan jamaah,” tulisnya, sembari memberikan apresiasi tinggi kepada petugas kloter yang terus bersiaga.

Taufadi menegaskan, bahwa catatan perjalanannya dibuat bukan untuk mendiskreditkan pihak tertentu. Ia hanya berharap, catatan perjalanannya menunaikan ibadah haji itu bisa menjadi masukan objektif dan bahan evaluasi bagi Kementerian Agama maupun PPIH Arab Saudi agar kualitas pelayanan di tahun-tahun berikutnya terus meningkat.

“Ini ditulis bukan untuk menyalahkan, melainkan sebagai bahan evaluasi agar pelayanan haji ke depan semakin baik, khususnya dalam memberikan perlindungan bagi jamaah lansia, perempuan, dan disabilitas,” pungkasnya

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita