Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL TUBAN

Berkah Idul Adha, Pengrajin Tusuk Sate di Tuban Panen Pesanan

Berkah Idul Adha, Pengrajin Tusuk Sate di Tuban Panen Pesanan
Raminah, pengrajin tusuk sate asal Perbon, Tuban, menunjukkan hasil produksinya menjelang Idul Adha. (Foto: Najib/Kanalindonesia.com)

TUBAN, KANALINDONESIA.COM: Menjelang Hari Raya Idul Adha, aktivitas para pengrajin tusuk sate di Kelurahan Perbon, Tuban, mulai meningkat. Di sejumlah rumah warga, potongan bambu terlihat menumpuk dan proses produksi pun berjalan lebih sibuk dari biasanya, seiring naiknya permintaan yang rutin datang menjelang momen hari raya.

Momen Idul Adha membawa berkah tersendiri bagi usaha rumahan di kawasan itu. Kebutuhan tusuk sate yang meningkat untuk momen bakar-bakar membuat pesanan ikut melonjak.

Salah satu pengrajin, Raminah (60), mengatakan permintaan menjelang hari raya jauh lebih ramai dibanding hari biasa. Dalam sehari, ia bisa membuat hingga 100 sampai 150 ikat, tergantung jumlah pesanan yang datang.

“Tidak tentu mas, buatnya itu tergantung dapetnya berapa, paling banyak bisa seratus sampai seratus limapuluh ikat,” jelas Raminah.

Isi setiap ikat pun tidak dihitung satu per satu. Raminah hanya menakar dengan segenggam tangan, yang jumlahnya bisa berkisar 50 hingga 80 batang yang per ikatnya dihargai Rp1.000 hingga Rp2.000

Pada hari biasa, pesanan yang diterimanya berkisar 70 sampai 90 ikat. Namun saat mendekati Idul Adha, jumlah itu bisa meningkat lebih banyak dalam waktu singkat.

“Dalam satu sampai dua hari paling banyak seratus lima puluh tusuk sate,” terangnya.

Bukan hanya tusuk sate yang ia buat. Dari bambu yang sama, Raminah juga memproduksi jepitan ikan panggang, serta tusukan untuk jajanan seperti telur gulung, cilok, dan sempol.

Bahan bakunya biasanya diantar langsung ke rumah. Satu lonjor bambu, kata dia, bisa diolah menjadi puluhan bahkan ratusan ikat, tergantung ukuran dan kebutuhan.

“Bahan bakunya dikirimi dari orang mas, biasanya satu lonjor itu bisa jadi puluhan hingga ratusan ikat,” tambahnya.

Semua dikerjakan dengan cara manual. Bambu dipotong, dibelah, dihaluskan, diruncingkan, lalu diikat sebelum siap diberikan kepada pembeli.

Raminah juga tidak membuat stok dalam jumlah banyak. Ia biasanya bekerja setelah ada pesanan, lalu pembeli datang sendiri untuk mengambil hasil produksinya.

“Saya produksi saat ada pesanan, biasanya pembeli itu pesan dulu lalu saya buat dan diambil sendiri dirumah,” ujarnya.

Usaha yang telah digelutinya sejak muda itu bukan sekadar pekerjaan sambilan. Dari kerajinan sederhana tersebut, Raminah mengaku bisa menghidupi keluarga hingga menyekolahkan anak sampai ke bangku kuliah.

“Sudah lama berjualan mas, tidak terhitung tahunnya. Saya kerja ini bisa sampai menyekolahkan anak di bangku kuliah,” pungkasnya.

Di kampung itu, Raminah bukan satu-satunya pengrajin. Banyak warga sekitar yang juga menekuni pekerjaan serupa sebagai sumber penghasilan.

Momen Idul Adha pun menjadi berkah tersendiri bagi warga yang menekuni usaha rumahan ini. Di tengah meningkatnya kebutuhan tusuk sate saat hari raya, para pengrajin ikut merasakan tambahan penghasilan dari pesanan yang datang lebih ramai dibanding hari biasa. (Najib)

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita