NGAWI, KANALINDONESIA.COM : Puluhan warga dari dua dusun di Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur, kembali menghidupkan tradisi bersih dusun Ngawi di Sendang Nggupe, Rabu (3/6/2026). Aksi gotong royong ini menjadi langkah nyata masyarakat dalam melestarikan warisan leluhur agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Sendang Nggupe sendiri merupakan kawasan peninggalan nenek moyang yang dikelilingi oleh pepohonan besar. Di lokasi ini, terdapat sumber mata air purba yang terus mengalir melimpah tanpa henti, bahkan saat musim kemarau ekstrem melanda wilayah tersebut.
Dalam pelaksanaan tradisi bersih dusun Ngawi kali ini, warga Dusun Kliteh dan Dusun Sepreh di Desa Selopuro, Kecamatan Pitu, tampak kompak menguras air sendang. Mereka bahu-membahu melakukan aksi bersih-bersih sumber air dari tumpukan sampah dan ranting dengan diiringi alunan gending gamelan Jawa yang khidmat.
Aktivitas bersih-bersih sumber air ini terasa semakin hidup dengan adanya pertunjukan seni lokal. Di sela-sela kesibukan warga, terdengar suara gamelan yang mengiringi gerakan gemulai para penari dalam tarian tradisional tayub. Perpaduan ritus lingkungan dan kesenian ini menjadi potensi besar untuk mendongkrak sektor wisata budaya Ngawi.
Kepala Desa Selopuro, Sunarno, menjelaskan bahwa pihak pemerintah desa bersama warga berkomitmen penuh untuk menjaga rutinitas tahunan ini. Sumber air sendang tersebut harus rutin dibersihkan karena memegang peran vital bagi pemenuhan kebutuhan domestik dan sektor pertanian desa.
“Tradisi ini sudah berlangsung secara turun-temurun. Kami hanya melaksanakan dan merawat pedoman dari leluhur. Makna utama dari kegiatan ini adalah menjaga kelestarian air yang menjadi sumber kehidupan seluruh warga desa,” ujar Sunarno.
Untuk menambah antusiasme masyarakat, pihak panitia juga menggelar lomba menangkap ikan lele di area sendang yang dikhususkan bagi anak-anak. Pihak desa menyediakan hadiah uang tunai sebesar Rp50 ribu bagi siapa saja yang berhasil menangkap ikan lele tersebut.
Masyarakat setempat rutin menggelar tradisi bersih dusun Ngawi ini setahun sekali, tepatnya pada bulan Besar (Zulhijah). Melalui ritual berskala desa ini, warga berharap dapat terus merawat kerukunan sekaligus memohon berkah dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. (rfa)

