CIREBON, KANALINDONESIA.COM – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung mulai memperkuat langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan yang diprediksi meningkat selama musim kemarau 2026. Salah satunya melalui rapat koordinasi (rakor) yang digelar pada Kamis (2/7/2026) dengan melibatkan berbagai instansi di delapan kabupaten/kota wilayah kerjanya.
Rakor tersebut diikuti unsur Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pertanian, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), hingga Perumda Air Minum (PDAM). Pertemuan itu bertujuan menyamakan langkah dalam menghadapi potensi berkurangnya pasokan air, baik untuk kebutuhan irigasi pertanian maupun air bersih masyarakat.
Kepala Bidang Operasi BBWS Cimanuk Cisanggarung, Martius, mengatakan rakor digelar setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan perkembangan terbaru terkait kondisi musim kemarau tahun ini yang diperkirakan lebih kering dibandingkan prediksi sebelumnya.
“BMKG menyampaikan bahwa kondisi kekeringan di wilayah kerja kami meningkat dibandingkan prediksi pada Februari lalu. Curah hujan juga diperkirakan jauh di bawah normal, sehingga perlu dilakukan langkah-langkah antisipasi sejak dini,” ujar Martius.
Menurutnya, BBWS Cimanuk Cisanggarung telah menyiapkan berbagai sumber daya untuk menghadapi kemungkinan terjadinya kekeringan, mulai dari personel, peralatan operasional, Unit Pengelola Bendungan, petugas operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi, hingga tim teknis di lapangan.
Selain itu, koordinasi dengan pemerintah daerah juga akan terus diperkuat agar setiap laporan mengenai gangguan layanan irigasi maupun kebutuhan air bersih dapat ditangani lebih cepat.
Martius mengimbau masyarakat untuk menyampaikan laporan secara berjenjang melalui pemerintah desa, kecamatan, hingga dinas terkait agar penanganan dapat dilakukan secara efektif.
“Apabila terdapat wilayah yang membutuhkan pasokan air bersih, kami akan berkoordinasi dengan PDAM. Kami juga memiliki mobil tangki serta pompa air yang dapat dimanfaatkan apabila masih tersedia sumber air di lokasi,” katanya.
Tak hanya itu, BBWS juga menyiapkan dukungan melalui program Instruksi Presiden (Inpres) bagi daerah yang mengalami kekurangan sumber air untuk kebutuhan irigasi. Program tersebut dapat diusulkan oleh pemerintah daerah sesuai kondisi dan kebutuhan di lapangan.
Berdasarkan peta kerawanan yang dimiliki BBWS Cimanuk Cisanggarung, wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan pada sektor irigasi meliputi Kabupaten Indramayu, Majalengka, Sumedang, dan Garut. Sementara itu, wilayah Cirebon bagian timur menjadi perhatian khusus dalam pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat.
Di sisi lain, Kepala Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan (OP) BBWS Cimanuk Cisanggarung, Hendra, memastikan kondisi Waduk Jatigede hingga saat ini masih dalam kondisi aman untuk menopang kebutuhan irigasi.
“Tampungan air di Waduk Jatigede hingga saat ini masih berada di atas kondisi normal. Dari sisi operasional, kami terus memaksimalkan layanan distribusi air irigasi agar kebutuhan pertanian tetap terpenuhi,” ungkapnya.
Meski demikian, Hendra mengingatkan seluruh pengguna irigasi agar mematuhi jadwal pembagian air yang telah ditetapkan. Menurutnya, disiplin dalam penggunaan air menjadi kunci agar distribusi tetap berjalan optimal selama musim kemarau.
“Selama seluruh pengguna mengikuti aturan yang telah ditetapkan dan tidak terjadi pengambilan air secara liar, kebutuhan irigasi dipastikan tetap dapat terlayani dengan baik sepanjang musim kemarau,” pungkasnya.

